Banner Pajak

Puluhan Ribu Anak Terdeteksi Depresi, Apa yang Terlewat?

Temuan CKG menunjukkan 34.961 anak dan remaja mengalami gejala depresi. Angka ini memperlihatkan pentingnya deteksi di sekolah karena perubahan fisik, emosi, dan perilaku sering muncul sebelum masalah berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

depresi remaja
MENGKHAWATIRKAN. Kesehatan mental remaja mulai mengkhawatirkan saat ini, perlu deteksi sejak dini. (foto:ist)

INSPIRASINUSANTARA.ID — Puluhan ribu anak dan remaja di Indonesia terdeteksi mengalami gejala depresi melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga Juli 2026. Kementerian Kesehatan mencatat 34.961 anak usia sekolah dan remaja atau 1,08 persen dari kelompok yang diperiksa menunjukkan gejala depresi.

Angka tersebut muncul dari pemeriksaan sekitar 33 juta penduduk. Pada kelompok dewasa dan lansia, Kemenkes menemukan 186.629 orang atau 0,66 persen mengalami gejala depresi. Persentase pada anak dan remaja memang lebih tinggi, sehingga temuan tersebut membuka pertanyaan lain: berapa banyak masalah kesehatan mental yang belum terdeteksi?

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyebut temuan CKG sebagai fenomena gunung es. Artinya, angka yang terlihat dalam skrining belum tentu menggambarkan seluruh persoalan kesehatan mental anak dan remaja di Indonesia.

“Ini juga fenomenanya gunung es, banyak sekali. Ini baru terdeteksi di CKG,” kata Dante dalam temu media di RS Soeharto Heerdjan, Jakarta Barat, Jumat (4/9/2026).

Sekolah Menjadi Titik Penting Deteksi Dini

Sekolah memiliki posisi strategis dalam mendeteksi perubahan kondisi anak karena sebagian besar aktivitas anak usia sekolah berlangsung di lingkungan pendidikan. Guru, wali kelas, dan guru Bimbingan Konseling (BK) dapat melihat perubahan perilaku yang mungkin tidak langsung terlihat oleh keluarga.

Kementerian Kesehatan sebelumnya menyebut hasil skrining CKG pada anak perlu ditindaklanjuti, termasuk melalui peran guru BK dan guru kelas. Kemenkes juga mendorong perluasan skrining serta penguatan tindak lanjut melalui Puskesmas.

Peran sekolah bukan berarti guru menggantikan tenaga kesehatan mental. Sekolah menjadi salah satu titik awal untuk mengenali perubahan, membuka ruang komunikasi, dan menghubungkan anak dengan layanan yang sesuai ketika diperlukan.

Kebutuhan itu menjadi semakin penting karena anak tidak selalu mampu menjelaskan kondisi psikologisnya dengan kata-kata. Perubahan suasana hati, pola tidur, pola makan, energi, interaksi sosial, atau perilaku belajar dapat menjadi petunjuk yang perlu diperhatikan.

Dante menyebut gejala gangguan kejiwaan dapat muncul dalam tiga ranah, yakni fisik, emosi, dan perilaku. Menurut dia, perubahan fisik sering menjadi tanda awal yang relatif mudah dikenali.

“Yang muncul dalam bentuk fisik itu yang paling sering ada gangguan pola tidur,” ujar Dante. Ia juga menyebut rasa lemas berulang dan perubahan berat badan sebagai tanda yang perlu mendapat perhatian.

Yang Terlihat di Sekolah Bisa Jadi Sinyal

Anak yang mengalami masalah kesehatan mental tidak selalu datang ke guru dengan mengatakan dirinya depresi. Sebagian justru menunjukkan perubahan yang tampak seperti persoalan kedisiplinan atau penurunan prestasi.

Perubahan pola tidur, misalnya, dapat memengaruhi konsentrasi di kelas. Rasa lelah yang terus berulang juga dapat membuat anak kehilangan energi untuk mengikuti kegiatan sekolah.

Perubahan nafsu makan dan berat badan dapat muncul bersamaan dengan perubahan kondisi psikologis. Dante memasukkan perubahan berat badan yang berkaitan dengan pola makan sebagai salah satu indikator fisik yang perlu dicermati.

Karena itu, guru dan keluarga perlu melihat perubahan tersebut dalam konteks yang lebih luas. Satu tanda saja tidak cukup untuk menyimpulkan seseorang mengalami depresi.

Skrining juga bukan diagnosis akhir. Pemeriksaan berfungsi membantu menemukan indikasi atau gejala yang kemudian membutuhkan penilaian dan tindak lanjut tenaga kesehatan.

Di sinilah sekolah dapat memainkan fungsi penting: bukan memberi label kepada siswa, tetapi membantu memastikan anak yang membutuhkan perhatian tidak terlewat.

Angka Anak Lebih Tinggi daripada Dewasa

Data CKG hingga Juli 2026 memperlihatkan perbedaan persentase yang perlu diperhatikan. Dari kelompok anak dan remaja yang diperiksa, 1,08 persen menunjukkan gejala depresi. Pada dewasa dan lansia, angkanya 0,66 persen.

Kelompok anak dan remaja juga mencatat 33.290 orang atau 1,03 persen dengan gejala kecemasan. Sementara pada kelompok dewasa dan lansia, Kemenkes menemukan 157.434 orang atau 0,56 persen mengalami gejala cemas.

Perbandingan itu tidak berarti anak dan remaja secara umum pasti lebih banyak mengalami gangguan kesehatan mental daripada orang dewasa. Data tersebut berasal dari peserta CKG yang telah menjalani pemeriksaan, sehingga angka yang tersedia mencerminkan hasil skrining pada populasi yang sudah diperiksa.

Namun, temuan tersebut cukup untuk menunjukkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental sejak usia sekolah. Deteksi yang lebih awal memberi kesempatan bagi keluarga, sekolah, dan layanan kesehatan untuk merespons sebelum masalah berkembang lebih jauh.

Kemenkes juga menyebut gejala depresi dan cemas pada anak usia sekolah dan remaja dalam pemeriksaan CKG sekitar 1,6 kali lebih besar dibandingkan kelompok dewasa dan lansia jika dilihat secara persentase.

Masalahnya Bisa Berawal dari Lingkungan

Kesehatan mental anak tidak hanya berkaitan dengan kondisi individu. Kemenkes sebelumnya menekankan bahwa faktor keluarga, pertemanan, dan lingkungan pendidikan ikut memengaruhi kondisi psikologis anak.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan penanganan masalah kesehatan jiwa anak tidak cukup hanya berfokus pada anak. Menurut dia, pola asuh keluarga dan lingkungan belajar juga perlu mendapat perhatian.

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar,” kata Budi dalam konferensi pers Kemenkes pada Maret 2026.

Pernyataan tersebut memberi konteks mengapa sekolah menjadi bagian penting dalam sistem deteksi. Lingkungan belajar dapat menjadi tempat anak mengalami tekanan, tetapi sekolah juga dapat menjadi tempat pertama yang menyediakan dukungan ketika perubahan mulai terlihat.

Tekanan akademik, relasi dengan teman, persoalan keluarga, serta perubahan dalam kehidupan sosial dapat memengaruhi kondisi anak. Namun, sumber masalah setiap anak berbeda dan tidak dapat disimpulkan hanya dari satu gejala.

Karena itu, pendekatan yang dibutuhkan bukan sekadar mencari siapa yang “bermasalah”. Sekolah perlu menciptakan lingkungan yang memungkinkan siswa berbicara dan mendapatkan bantuan tanpa takut mendapat stigma.

Mengapa Deteksi Dini Lebih Penting daripada Menunggu?

Masalah kesehatan mental yang tidak terlihat dapat berkembang tanpa mendapat penanganan. Anak mungkin terus mengalami kesulitan di sekolah, menarik diri dari lingkungan sosial, atau mengalami perubahan perilaku tanpa orang dewasa memahami penyebabnya.

Deteksi dini memberi kesempatan untuk melakukan tindak lanjut lebih cepat. Kemenkes menyatakan hasil skrining CKG pada anak akan ditindaklanjuti melalui Puskesmas, sementara guru BK dan guru kelas dapat berperan dalam pendampingan siswa yang menunjukkan gejala.

Model tersebut memperlihatkan bahwa deteksi bukan tujuan akhir. Setelah indikasi muncul, sistem harus menyediakan jalur yang jelas menuju pendampingan, pemeriksaan lebih lanjut, dan layanan kesehatan jika diperlukan.

Tanpa tahap lanjutan, skrining hanya menghasilkan angka. Manfaat sebenarnya muncul ketika anak yang membutuhkan bantuan dapat terhubung dengan layanan yang tepat.

Kemenkes juga mencatat keterbatasan tenaga psikolog klinis di Puskesmas. Pada Maret 2026, pemerintah menyebut jumlah psikolog klinis di Puskesmas masih sekitar 203 orang dan berupaya mempercepat pemenuhannya.

Tantangan Setelah Anak Terdeteksi

Temuan puluhan ribu anak dengan gejala depresi tidak otomatis berarti seluruh anak tersebut mengalami depresi sebagai diagnosis klinis. Istilah yang digunakan dalam data CKG adalah gejala depresi atau hasil deteksi melalui skrining.

Perbedaan ini penting agar angka tidak menimbulkan stigma. Seorang anak yang mendapat hasil skrining positif tetap membutuhkan penilaian lebih lanjut untuk menentukan kondisi dan kebutuhan intervensinya.

Tantangan berikutnya adalah memastikan anak mau menerima bantuan. Stigma terhadap persoalan kesehatan mental dapat membuat siswa enggan bercerita atau takut dianggap berbeda oleh teman dan lingkungan.

Kemenkes menekankan perlunya menjaga kerahasiaan data pribadi anak. Melalui Surat Keputusan Bersama tentang Kesehatan Jiwa Anak, sembilan kementerian dan lembaga mendorong sistem penanganan yang terintegrasi sekaligus memberikan perlindungan terhadap data anak.

Perlindungan tersebut penting karena deteksi kesehatan mental seharusnya membantu anak, bukan menciptakan label baru. Informasi mengenai kondisi psikologis siswa perlu ditangani secara hati-hati dan hanya digunakan untuk mendukung kebutuhan kesehatannya.

Dari Skrining ke Sistem Dukungan

Kemenkes menargetkan perluasan skrining CKG agar menjangkau 25 juta anak. Pemerintah juga mendorong keterlibatan lintas sektor agar penanganan kesehatan jiwa anak tidak berjalan sendiri-sendiri.

Pada Maret 2026, sembilan kementerian dan lembaga menandatangani SKB tentang Kesehatan Jiwa Anak. Kolaborasi tersebut mencakup Kemenkes, KemenPPPA, Komdigi, Kemendikdasmen, Kemendukbangga/BKKBN, Kemenag, Kemendagri, Kemensos, dan Polri.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa kesehatan mental anak membutuhkan sistem yang menghubungkan sekolah, keluarga, layanan kesehatan, dan pemerintah. Sekolah dapat menemukan sinyal awal, tetapi layanan kesehatan tetap memiliki peran dalam pemeriksaan dan penanganan.

Dalam praktiknya, jalur tersebut perlu mudah dipahami oleh guru dan orang tua. Ketika seorang siswa menunjukkan perubahan yang mengkhawatirkan, orang dewasa perlu tahu kepada siapa harus berkonsultasi dan bagaimana menjaga privasi anak.

Apa yang Terlewat Jika Sekolah Tidak Peka?

Tanpa deteksi dini, perubahan perilaku anak dapat dianggap sebagai kenakalan, kemalasan, atau sekadar fase pertumbuhan. Padahal, perubahan tersebut bisa menjadi tanda bahwa anak sedang menghadapi persoalan psikologis.

Risiko terbesar bukan sekadar hilangnya konsentrasi belajar. Masalah kesehatan jiwa yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih berat.

Kemenkes sebelumnya mengaitkan persoalan kesehatan mental anak dengan risiko bunuh diri. Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan proporsi anak yang pernah mencoba bunuh diri meningkat dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Angka tersebut tidak berarti setiap anak yang mengalami gejala depresi akan memiliki keinginan untuk mengakhiri hidup. Namun, data itu menunjukkan mengapa sistem deteksi dan dukungan kesehatan mental perlu bekerja sebelum masalah mencapai tingkat yang lebih serius.

Deteksi juga memungkinkan orang dewasa memahami perubahan anak tanpa buru-buru memberikan penilaian. Pendekatan semacam ini dapat membuka ruang bagi anak untuk menyampaikan apa yang mereka alami.

Puluhan Ribu Anak Terdeteksi, Apa yang Harus Dilakukan?

Data Kemenkes hingga Juli 2026 mencatat 34.961 anak dan remaja menunjukkan gejala depresi melalui CKG. Angka itu menjadi sinyal bahwa kesehatan mental anak tidak cukup ditangani ketika masalah sudah terlihat berat.

Sekolah memiliki posisi penting karena guru dan tenaga pendidik dapat mengenali perubahan yang terjadi dalam keseharian siswa. Namun, sekolah tidak bekerja sendirian. Keluarga dan layanan kesehatan perlu menjadi bagian dari jalur tindak lanjut.

Kuncinya bukan menjadikan guru sebagai pemeriksa kesehatan mental, melainkan membangun sistem yang membuat tanda awal tidak mudah terlewat. Ketika perubahan pola tidur, energi, emosi, perilaku, atau pola makan muncul secara berulang, orang dewasa perlu memberi perhatian dan mempertimbangkan bantuan profesional.

Dante mengingatkan masyarakat agar lebih peka terhadap gejala awal agar gangguan tidak berkembang menjadi lebih berat.

Pada akhirnya, angka 34.961 bukan sekadar statistik kesehatan. Angka tersebut menunjukkan anak-anak yang terdeteksi melalui sistem pemeriksaan, sekaligus mengingatkan bahwa masih ada kemungkinan persoalan lain yang belum terlihat.

Di titik itulah deteksi kesehatan mental di sekolah menjadi penting. Bukan untuk memberi label kepada anak, melainkan memastikan perubahan yang muncul tidak berlalu tanpa perhatian dan anak memiliki jalan menuju bantuan yang tepat. (sal/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *