INSPIRASINUSANTARA.ID — Muh Akhdan Abizar Anwar, pria kelahiran Watampone pada 2002, memilih dongeng sebagai cara berinteraksi dengan anak-anak. Ia akrab disapa Akhdan dan banyak membawakan cerita yang bersumber dari kisah-kisah lokal Sulawesi.
Bersama sejumlah kawannya, Akhdan menumbuhkan komunitas Makgaligo. Komunitas tersebut menjadi ruang bagi anak-anak Sulawesi Selatan untuk berekspresi, berimajinasi, dan mengembangkan kreativitas melalui kearifan lokal masyarakat Sulawesi.
Ketertarikan Akhdan terhadap dunia anak dan dongeng tumbuh melalui pengabdian masyarakat Makgaligo sejak 2023. Dari proses itu, ia melihat cerita lokal memiliki ruang penting untuk menghubungkan anak-anak dengan lingkungan hidup dan ingatan tentang leluhur Sulawesi.
“Saya membaca cerita Sulawesi membuatku dekat dengan lanskap ruang hidupku. Begitu caraku belajar, membaca, memahami, lalu berbagi kepada anak-anak secara bersama-sama melihat ruang hidup kita,” kata Akhdan.
Caka Menjadi Teman dalam Setiap Dongeng
Saat berkeliling mendongeng, Akhdan tidak tampil seorang diri. Ia selalu membawa Caka, boneka ventriloquist, bersama beberapa boneka berbentuk hewan.
Boneka tersebut menjadi medium Akhdan untuk membangun interaksi dengan anak-anak. Lewat karakter boneka, ia memadukan seni, kelucuan, dan cerita dalam satu pertunjukan.
Bagi Akhdan, kehadiran Caka juga membuka respons berbeda dari anak-anak. Boneka ventriloquist yang seolah-olah dapat hidup membuat mereka penasaran.
“Banyak anak-anak yang cinta sama boneka ventriloquist, mungkin ini cara mereka yah merespon rasa penasaran saat melihat boneka itu terlihat hidup,” cerita Akhdan.
Rasa penasaran tersebut kemudian menjadi pintu masuk bagi Akhdan untuk berinteraksi dengan anak-anak. Ia tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga membangun suasana agar anak dapat mengikuti kisah dengan cara yang menyenangkan.
Dongeng Dibawa Berkeliling Sulawesi Selatan
Selama dua tahun terakhir, Akhdan telah membawa kisah-kisahnya ke sejumlah wilayah Sulawesi Selatan. Ia berkisah di Jeneponto, Bantaeng, Luwu Timur, Pinrang, Wajo, Toraja, Barru, Gowa, dan Makassar.
Perjalanan tersebut membuat dongeng menjadi pengalaman langsung bagi Akhdan. Setiap daerah menghadirkan ruang interaksi dengan anak-anak dan pengalaman baru dalam menyampaikan cerita.
Bagi Akhdan, cerita lokal memiliki hubungan dengan ruang hidup anak. Karena itu, ia tidak melihat dongeng hanya sebagai hiburan.
Ia menggunakan cerita sebagai bagian dari proses belajar. Anak-anak dapat mengenal lingkungan budaya melalui kisah yang dekat dengan masyarakat Sulawesi.
Di titik tersebut, Makgaligo menjadi salah satu ruang yang ia bangun bersama kawan-kawannya. Komunitas itu memberi tempat bagi anak-anak untuk berekspresi dan berimajinasi melalui cerita serta kearifan lokal.
Pengalaman Beragam Membentuk Cara Bercerita
Akhdan memiliki pengalaman sebagai pustakawan, jurnalis, aktor, dan penulis. Beragam pengalaman tersebut membantunya mengeksplorasi banyak hal untuk menjadi bahan belajar dalam menghasilkan karya.
Setiap pengalaman memberi sudut pandang berbeda dalam proses berkarya. Dunia kepustakawanan membuatnya dekat dengan bacaan. Sementara itu, pengalaman sebagai jurnalis, aktor, dan penulis memberinya ruang untuk mengeksplorasi cerita dan cara menyampaikannya.
Namun, Akhdan menempatkan anak-anak sebagai pertimbangan utama. Menurutnya, membuat karya untuk anak membutuhkan proses belajar yang serius.
Ia melihat dongeng Sulawesi tetap relevan dengan perkembangan budaya tutur. Yang berubah adalah medium dan cara menyampaikan cerita.
Karena itu, Akhdan terus mengeksplorasi bentuk penyampaian yang sesuai dengan anak-anak. Caka dan boneka hewan menjadi salah satu medium yang ia gunakan dalam proses tersebut.
Memahami Anak Sebelum Memilih Cerita
Bagi Akhdan, pendongeng perlu memahami anak sebelum menentukan bentuk karya. Ia menyadari bahwa cerita yang disampaikan kepada anak membawa pengaruh terhadap cara mereka menerima sebuah kisah.
Pengalaman mengikuti Gulali Festival menjadi salah satu pelajaran yang membekas baginya. Dari pengalaman itu, ia semakin melihat pentingnya memahami anak dalam proses berkarya.
“Bagiku instrumen penting dalam mempertimbangkan karya adalah belajar memahami anak-anak dengan baik, itu pelajaran yang sangat membekas saat mengikuti Gulali Festival kemarin,” ujar Akhdan.
Ia juga percaya dongeng memiliki kekuatan untuk menguatkan anak-anak. Karena itu, ia merasa perlu mempelajari cara menuturkan cerita secara hati-hati tanpa menghilangkan unsur menyenangkan.
“Saya juga percaya dongeng kita ini punya kekuatan untuk menguatkan anak-anak, maka saya perlu belajar dengan baik bagaimana cara menuturkan dongeng itu dengan hati-hati dan tetap menyenangkan bagi anak,” katanya.
Pernyataan tersebut memperlihatkan cara Akhdan memandang pekerjaannya sebagai pendongeng. Cerita bukan hanya soal bagaimana sebuah kisah selesai disampaikan, tetapi juga bagaimana anak menerima dan memahami cerita tersebut.
Merawat Ingatan Lewat Cerita Lokal
Cerita lokal menjadi titik penting dalam perjalanan Akhdan bersama Makgaligo. Ia melihat kisah-kisah Sulawesi memiliki potensi untuk mendekatkan anak dengan ruang hidup dan leluhur mereka.
Ketika anak mendengar cerita yang berkaitan dengan lingkungan budaya sendiri, mereka mendapat ruang untuk mengenali kembali kisah yang tumbuh di sekitar masyarakatnya.
Akhdan kemudian membawa cerita tersebut melalui medium yang dekat dengan dunia anak. Caka, boneka hewan, seni, humor, dan interaksi menjadi bagian dari cara tersebut.
Pendekatan itu membuat dongeng tidak berhenti pada teks atau cerita yang dibacakan. Akhdan mengubahnya menjadi pengalaman bersama antara pendongeng dan anak-anak.
Perjalanan ke berbagai daerah juga memperluas ruang interaksi tersebut. Dari Jeneponto hingga Makassar, dari Pinrang hingga Toraja, ia terus membawa gagasan yang sama: cerita lokal dapat menjadi bagian dari proses belajar anak.
Dongeng Tetap Relevan dengan Cara Baru
Perubahan budaya dan perkembangan medium bercerita tidak membuat Akhdan meninggalkan dongeng. Sebaliknya, ia melihat perkembangan tersebut sebagai alasan untuk terus mengeksplorasi cara penyampaian.
Menurutnya, budaya tutur tetap memiliki tempat selama pendongeng mampu mempertimbangkan kebutuhan anak. Karena itu, medium menjadi bagian penting dalam membuat cerita tetap menarik.
Caka menjadi contoh dari pendekatan tersebut. Boneka ventriloquist memberikan unsur kejutan dan rasa penasaran yang kemudian membuka interaksi.
Namun, Akhdan tidak menjadikan medium sebagai tujuan utama. Cerita tetap menjadi pusat. Medium membantu anak memasuki cerita dengan cara yang lebih dekat dengan dunia mereka.
Pengalaman Akhdan selama dua tahun terakhir juga memperlihatkan proses belajar yang terus berjalan. Setiap perjumpaan dengan anak menjadi bagian dari pengalamannya dalam memahami cara berkarya.
Pada akhirnya, Akhdan melihat dongeng sebagai ruang untuk belajar bersama. Ia belajar memahami anak, sementara anak mendapat kesempatan mengenal cerita dan kearifan lokal melalui pengalaman yang menyenangkan.
Perjalanan Akhdan bersama Caka menunjukkan bahwa merawat cerita lokal tidak selalu harus berlangsung melalui cara yang formal. Boneka, humor, interaksi, dan dongeng dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kembali kisah Sulawesi kepada anak-anak.
Bagi Akhdan, hal terpenting bukan sekadar seberapa banyak cerita yang berhasil disampaikan. Ia ingin memastikan cerita itu hadir dengan cara yang tepat bagi anak.
Sebab, ketika dongeng menjadi pengalaman yang menyenangkan, cerita lokal memiliki ruang untuk terus hidup dalam ingatan anak-anak Sulawesi. (*/IN)














