MAKASSAR,inspirasinusantara.id — Aktivitas di sebuah rumah di Jalan Cokonori tampak tak pernah sepi. Paket-paket disusun rapi, sementara kurir datang silih berganti untuk menjemput pesanan. Dari tempat sederhana inilah Cambridge Warehouse, brand fesyen lokal asal Makassar, tumbuh pesat dengan capaian lebih dari 9.000 pengiriman sejak 2023.
Di balik usaha tersebut, ada Muhammad Hisran Rafii, pelaku UMKM yang telah merintis bisnisnya sejak 2012. Ia sempat merasakan masa kejayaan distro—ketika penjualan dilakukan secara langsung dan mengandalkan kunjungan pelanggan ke toko fisik. Namun, perubahan perilaku konsumen mendorongnya beradaptasi.
Peralihan ke sistem digital pun menjadi titik balik usaha yang dirintis oleh Hisran, termasuk dengan memanfaatkan platform e-commerce seperti Shopee.
Perubahan perilaku konsumen membuat penjualan lebih praktis. Sekarang pembeli cukup pesan secara online tanpa harus datang langsung,” ujar Hizran.
Menurutnya, platform e-commerce membuka peluang pasar yang lebih luas tanpa batas wilayah. Produk yang dijualnya kini telah menjangkau berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Ambon hingga Papua. Bahkan, salah satu produknya berhasil menembus pasar internasional hingga Meksiko.
Dalam operasional harian, aktivitas pengiriman terbilang cukup tinggi. Hizran menyebut, dalam satu waktu bisa ada hingga 20 kurir yang datang untuk mengambil paket pesanan.
Peningkatan penjualan juga terlihat dari jumlah produksi. Jika sebelumnya penjualan offline hanya mencapai sekitar 40 lembar per periode produksi, kini meningkat hingga dua kali lipat sejak beralih ke platform digital.
Lonjakan penjualan semakin terasa pada periode high season. Dari yang awalnya hanya mencatat penjualan satu digit per hari di awal 2023, kini mampu menembus dua digit bahkan lebih.
Dari sisi produk, Hizran mengaku selalu mengikuti tren pasar. Setiap desain yang dirilis dibuat dalam beberapa varian untuk mengukur respons konsumen. Harga produk yang ditawarkan berkisar antara Rp100 ribu hingga Rp200 ribu.
Ia juga memanfaatkan berbagai fitur promosi di platform e-commerce, seperti potongan harga, untuk meningkatkan daya tarik pembeli. Selain itu, dukungan dari supplier turut membantu menjaga ketersediaan produk meski sebagian bahan didatangkan dari luar daerah.
Meski demikian, Hizran mengakui perjalanan bisnisnya tidak lepas dari tantangan. Pada tahap awal, ia harus mengelola seluruh operasional sendiri, termasuk produksi dan pengemasan. Kendala distribusi barang juga sempat menjadi hambatan karena waktu pengiriman yang cukup lama.
Saat ini, ia telah dibantu dua karyawan untuk mengelola kegiatan operasional harian. Meski begitu, Hizran tetap terlibat langsung dalam proses pengecekan kualitas hingga pengemasan produk.
Ke depan, ia berencana memaksimalkan fitur live selling di Shopee untuk memperluas jangkauan pasar. Ia optimistis potensi e-commerce masih akan terus berkembang.
Hizran menilai, transformasi digital menjadi kunci utama bagi pelaku UMKM untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat.(*/IN)

















