El Nino Ancam Pendapatan Petani, LAZ Hadji Kalla Kembangkan Usaha Alternatif

Petani di tiga desa Kabupaten Parigi Moutong didorong mengembangkan usaha di luar pertanian untuk mengurangi ketergantungan pada hasil panen. Program pemberdayaan ini telah berjalan selama dua tahun.

El Nino Ancam Petani
BERDAMPAK. Program Manager Bidang Community and Development Care (Comdev) LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, melakukan kunjungan ke beberapa titik demplot petani di desa binaan yang berlokasi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, beberapa waktu lalu.

INSPIRASINUSANTARA.ID — Kekeringan dan berkurangnya ketersediaan air akibat fenomena El Nino dapat mengancam produktivitas pertanian sekaligus pendapatan keluarga petani. Untuk mengurangi risiko tersebut, masyarakat di tiga desa Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mulai mengembangkan sumber penghasilan alternatif melalui program pemberdayaan Desa Bangkit Sejahtera (DBS).

Program yang dijalankan Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla selama dua tahun terakhir itu mendorong petani tidak hanya mengandalkan hasil pertanian dan perkebunan, tetapi juga mengembangkan usaha rumahan serta memanfaatkan potensi ekonomi lokal.

Tiga wilayah pendampingan tersebut meliputi Desa Ta’aniuge di Kecamatan Tomini, Desa Baina’a Barat, dan Desa Ambason Mekar di Kecamatan Tinombo.

Pendekatan ini diarahkan untuk membantu masyarakat mempertahankan aktivitas ekonomi ketika kondisi cuaca mengganggu produksi pertanian.

El Nino Tingkatkan Risiko Pendapatan Petani

Perubahan pola cuaca menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada sektor pertanian.

Fenomena El Niño dapat menyebabkan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi memperpanjang musim kemarau dan mengurangi ketersediaan air untuk kegiatan budidaya.

Bagi petani yang bergantung pada sumber air alami, penurunan debit air dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, jadwal tanam, hingga hasil panen.

Risiko ekonomi menjadi lebih besar ketika pendapatan keluarga hanya berasal dari satu jenis komoditas.

Program Manager Bidang Community and Development Care (Comdev) LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, mengatakan ketergantungan terhadap pertanian dan perkebunan membuat masyarakat lebih rentan ketika terjadi perubahan kondisi lingkungan.

“Ketika terjadi El Nino berupa kemarau yang panjang, kelompok masyarakat yang sebelumnya fokus melakukan budidaya komoditas pertanian ataupun perkebunan menghadapi tantangan karena kondisi kekeringan dan debit sumber air yang menurun drastis,” ujar Erny.

Menurutnya, masyarakat perlu mengidentifikasi potensi usaha lain yang sesuai dengan kondisi wilayah agar pendapatan keluarga tidak hanya bergantung pada hasil budidaya.

Diversifikasi tersebut menjadi salah satu strategi untuk mengurangi risiko kehilangan penghasilan ketika kegiatan pertanian menghadapi gangguan.

Petani Kembangkan Usaha di Luar Hasil Panen

Melalui program Desa Bangkit Sejahtera, kelompok masyarakat memperoleh pendampingan untuk mengembangkan sejumlah kegiatan ekonomi alternatif.

Pilihan usaha yang diperkenalkan mencakup budidaya timun, kacang panjang, dan kakao, serta pengolahan bahan lokal menjadi produk bernilai ekonomi.

Salah satu bentuk diversifikasi yang dikembangkan adalah pemanfaatan daun kelapa untuk menghasilkan sapu lidi dan piring lidi.

Selain itu, masyarakat juga membentuk kelompok usaha rumahan yang memproduksi suvenir berupa celengan karakter.

Pengembangan usaha tersebut bertujuan memperluas sumber pendapatan keluarga, terutama ketika hasil pertanian mengalami penurunan akibat kondisi cuaca.

Berbeda dari kegiatan budidaya yang membutuhkan ketersediaan air dan kondisi musim tertentu, usaha kerajinan dapat memberikan pilihan aktivitas ekonomi di luar produksi pertanian.

Namun, keberlanjutan usaha rumahan tetap bergantung pada ketersediaan bahan baku, keterampilan produksi, kualitas produk, dan akses pemasaran.

Sementara itu, budidaya timun, kacang panjang, dan kakao tetap memerlukan pengelolaan air serta penyesuaian teknik pertanian dengan kondisi lingkungan setempat.

Karena itu, diversifikasi tidak berarti seluruh usaha baru terbebas dari risiko perubahan iklim, melainkan menjadi upaya membagi risiko ekonomi melalui beberapa sumber penghasilan.

Pendampingan Dua Tahun Mulai Berdampak pada Warga

Program Desa Bangkit Sejahtera telah berjalan selama dua tahun di tiga desa Kabupaten Parigi Moutong.

Salah satu desa penerima pendampingan adalah Ambason Mekar, Kecamatan Tinombo.

Kepala Desa Ambason Mekar, Abdul Aziz E. Hamu, mengatakan kegiatan pemberdayaan telah memberikan manfaat bagi kelompok masyarakat yang mengikuti program.

Menurutnya, manfaat tersebut tidak hanya berupa peningkatan pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga mulai dirasakan melalui bertambahnya pendapatan kelompok penerima manfaat.

“Saya selaku Kepala Desa Ambason Mekar sangat bersyukur dan berterima kasih kepada LAZ Hadji Kalla yang telah banyak menjalankan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa kami selama ini,” ujar Abdul Aziz.

Diversifikasi Usaha Jadi Strategi Adaptasi Iklim

Pengembangan sumber penghasilan di luar pertanian menjadi salah satu pendekatan adaptasi ekonomi terhadap risiko perubahan iklim.

Bagi rumah tangga petani, ketergantungan pada satu komoditas dapat menimbulkan tekanan keuangan ketika terjadi gagal panen, penurunan produksi, atau perubahan harga pasar.

Dengan memiliki beberapa kegiatan usaha, keluarga berpeluang memperoleh pendapatan dari sumber lain ketika salah satu usaha mengalami gangguan.

Misalnya, kegiatan produksi kerajinan dapat tetap dijalankan saat aktivitas pertanian berkurang, sepanjang bahan baku dan permintaan pasar tersedia.

Namun, diversifikasi usaha juga membutuhkan pendampingan yang tidak hanya berfokus pada keterampilan membuat produk.

Penguatan manajemen usaha, penghitungan biaya produksi, pemasaran, dan pengelolaan keuangan menjadi faktor penting agar kegiatan ekonomi dapat berkembang.

Dalam konteks pemberdayaan masyarakat, kemampuan menjual produk secara berkelanjutan menjadi salah satu penentu apakah usaha alternatif benar-benar mampu menopang pendapatan keluarga.

Kemandirian Ekonomi Desa Jadi Tantangan Berikutnya

LAZ Hadji Kalla menempatkan program Desa Bangkit Sejahtera sebagai upaya pemberdayaan yang tidak berhenti pada pemberian bantuan.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan masyarakat mengelola usaha dan mempertahankan sumber pendapatan setelah masa pendampingan selesai.

Kepala Desa Ambason Mekar, Abdul Aziz, berharap masyarakat dapat melanjutkan kegiatan ekonomi yang telah dikembangkan tanpa terus bergantung pada dukungan lembaga pendamping.

“Semoga semakin banyak desa yang akan mendapatkan pendampingan dari LAZ Hadji Kalla di waktu mendatang dan semoga kami juga akan selalu dapat melanjutkan programnya secara mandiri, walaupun desa kami sudah tidak didampingi lagi,” katanya.

Harapan tersebut menjadi tantangan dalam pelaksanaan program pemberdayaan jangka panjang.

Kelompok usaha perlu memiliki kemampuan mengelola produksi, menjaga kualitas barang, serta membangun jaringan pemasaran agar kegiatan ekonomi tetap berjalan setelah pendampingan berakhir.

Bagi masyarakat Parigi Moutong, diversifikasi usaha membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap hasil panen yang dipengaruhi kondisi musim.

Namun, manfaat jangka panjang program tetap perlu dilihat dari keberlanjutan usaha dan perubahan pendapatan rumah tangga penerima manfaat.

Dengan demikian, keberhasilan pemberdayaan tidak hanya ditentukan oleh jumlah kegiatan pelatihan atau jenis usaha yang dikembangkan, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat mempertahankan penghasilan ketika menghadapi tekanan ekonomi akibat perubahan kondisi lingkungan. (*/IN)

Banner Pajak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *