Penulis: Rismawati
Datang ke Pantai Paranghulu rasanya seperti menemukan tempat pelarian kecil dari rutinitas. Begitu tiba, suasananya langsung terasa berbeda. Tenang, lapang, dan membuat siapa pun ingin memperlambat langkah. Di sini, tidak ada alasan untuk buru-buru pulang, karena pantai ini memang mengajak pengunjung untuk tinggal lebih lama. Di sekitar pantai, tersedia villa-villa yang nyaman untuk bermalam. Menginap di sini memberi pengalaman sederhana tapi berkesan. Pagi hari dimulai dengan suara ombak yang terdengar lembut, membuka mata dengan pemandangan pasir putih yang bersih, lalu duduk santai di gazebo sambil menunggu matahari naik perlahan. Waktu seolah berjalan lebih pelan.
Pantai Paranghulu masih terasa alami. Pasir putih membentang luas, air lautnya jernih, dan gradasi warna biru lautnya enak dipandang lama-lama. Angin pantai bertiup sepoi-sepoi, cukup untuk membuat betah duduk tanpa melakukan apa pun. Suasana seperti ini jarang ditemui di pantai yang sudah ramai oleh wisatawan. Tempat ini cocok untuk berbagai suasana. Datang bersama keluarga, menghabiskan waktu bersama teman, atau sekadar menikmati momen bersama orang spesial. Pantai Paranghulu memberi ruang untuk bercengkerama tanpa gangguan, tanpa hiruk pikuk, hanya suara laut dan angin yang menemani.
Perjalanan menuju Pantai Paranghulu memang membutuhkan waktu. Dari Makassar, jaraknya sekitar 150 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih empat hingga lima jam. Setelah tiba di pusat Kota Bulukumba, perjalanan dilanjutkan sekitar tiga puluh menit. Lokasinya berada di Desa Bira, Kecamatan Bonto Bahari, tidak jauh dari Pelabuhan Bira. Rasa lelah di perjalanan terbayar saat tiba di pantai. Ada pemandangan yang jarang ditemui di tempat lain. Di tepi pantai, pengunjung bisa melihat langsung aktivitas pembuatan perahu Pinisi.
Perahu kayu legendaris itu dikerjakan perlahan oleh tangan-tangan terampil, menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Salah seorang pengunjung, Citra, mengungkapkan kesannya saat berkunjung ke Pantai Paranghulu. Dari berbagai pantai yang pernah ia datangi, tempat ini terasa berbeda.
Suasananya lebih tenang dan alami, pasirnya masih bersih, air lautnya jernih, serta tidak terlalu ramai sehingga memberi ruang untuk benar-benar menikmati pantai. Aktivitas pembuatan perahu Pinisi yang berlangsung langsung di tepi pantai menjadi pengalaman langka baginya, menghadirkan cerita tersendiri yang membuat Pantai Paranghulu bukan sekadar indah, tetapi juga meninggalkan kesan dan kenangan. Bagi yang ingin merasakan suasana pantai ala Bali tanpa harus pergi jauh atau mengeluarkan banyak biaya, Pantai Paranghulu bisa jadi pilihan. Duduk di tepi pantai, memandang laut yang terbentang luas, mendengar debur ombak, semuanya terasa sederhana tapi menenangkan. Liburan terasa dekat, tanpa ribet.














