Kenapa Mager Terasa Nikmat? Ini Penjelasan Ilmiahnya

JAKARTA,inspirasinusantara.id — Kebiasaan malas gerak atau mager bukan sekadar soal kemauan, tetapi berkaitan dengan cara kerja otak manusia yang cenderung memilih aktivitas dengan imbalan instan. Fenomena ini semakin sering terjadi di tengah gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik dan didominasi penggunaan perangkat digital.

Mager atau malas gerak merujuk pada kondisi ketika seseorang enggan melakukan aktivitas fisik meski tidak ada hambatan berarti. Kebiasaan ini tampak dalam aktivitas sehari-hari, seperti duduk terlalu lama, bermain gawai, hingga menghindari olahraga.

Dosen Fakultas Kedokteran IPB University, Rimbawan, menyebut rendahnya aktivitas fisik dalam jangka panjang dapat berdampak serius bagi kesehatan. Risiko yang muncul antara lain penyakit kronis, gangguan metabolisme, hingga penurunan kualitas hidup.

Secara ilmiah, kecenderungan mager berkaitan dengan sistem penghargaan di otak atau reward system. Aktivitas santai seperti rebahan atau bermain ponsel dapat memicu pelepasan dopamin secara cepat, yaitu zat kimia di otak yang menimbulkan rasa nyaman dan senang.

Sebaliknya, aktivitas fisik seperti olahraga membutuhkan usaha lebih besar sebelum menghasilkan efek yang sama. Kondisi ini membuat otak cenderung memilih aktivitas dengan kepuasan instan dibandingkan yang memerlukan energi lebih.

Dalam jangka panjang, pola ini dapat membentuk kebiasaan. Otak menjadi “terlatih” untuk terus mencari kenyamanan, sehingga aktivitas fisik semakin dihindari.

Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa gaya hidup sedentari menjadi faktor risiko berbagai penyakit tidak menular. Selain berdampak pada fisik, kurangnya aktivitas juga berpengaruh pada kesehatan mental, seperti meningkatnya stres dan menurunnya produktivitas.

Fenomena mager mencerminkan perubahan pola hidup masyarakat modern, terutama generasi muda yang lebih banyak beraktivitas di ruang digital. Tanpa keseimbangan, kebiasaan ini berpotensi meningkatkan beban kesehatan di masa depan.

Para ahli menyarankan langkah sederhana untuk mengatasinya, seperti membangun rutinitas aktivitas ringan, mengatur waktu penggunaan gawai, serta membiasakan tubuh bergerak secara bertahap.

Dengan memahami cara kerja otak, kebiasaan mager dapat dikendalikan melalui pendekatan yang lebih realistis, yakni menyeimbangkan kebutuhan kenyamanan dengan aktivitas fisik yang cukup.(slv/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *