Budaya  

Koleksi Kain Tenun Bugis, 4 Ragam Motif Ini Harus Dimiliki

Koleksi Kain Tenun Bugis, 4 Ragam Motif Ini Harus Dimiliki
KAIN TENUN BUGIS. 4 Ragam Motif Sarung Sutera Bugis yang Harus Dimiliki. (foto:ig/@dunia_sutera_sengkang)

INSPIRASI NUSANTARA–Salah satu kain tenun Bugis yang terkenal ialah sarung sutera Bugis. Motif pada sarung ini mencerminkan perjalanan sejarah, budaya, dan filosofi masyarakat Bugis.

Keragaman motif pada sarung sutera Bugis menyimbolkan nilai-nilai yang dianut masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Suku Bugis. Dalam sebuah penelitian disebutkan bahwa sarung sutera bugis  memiliki empat ragam motif.

Empat ragam motif tersebut merupakan hasil dari perkembangan kebudayaan masyarakat. Untuk itu, keempat motif tersebut memiliki nilai sejarah tersendiri.
“Bentuk corak-corak sarung sutera Bugis, dibedakan atas empat babak pergeseran, yakni babak tak bergambar, babak kotak-kotak, babak bergambar, dan babak motif permukaan,” dikutip dari Jurnal Pangadereng.

Berikut perkembangan motif sarung sutera, dari motif sederhana hingga motif dengan simbolisme mendalam.

Babak Tak Bergambar (1400-an)

Pada tahap awal, motif sarung hanya berupa garis-garis polos, baik horizontal (balo makkalu) maupun vertikal (balo tettong). Motif ini menggunakan serat katun sebagai bahan utama dengan alat tenun tradisional non-mesin.

Garis Horizontal (Balo Makkalu)
Motif ini hanya menampilkan garis-garis horizontal di pangkal dan ujung sarung, meninggalkan bagian tengah polos. Garis-garis ini melambangkan ikatan kekeluargaan yang erat, seperti benang yang terhubung tanpa putus.

Garis Vertikal (Balo Tettong)
Motif vertikal mencerminkan hubungan hierarkis antara raja dan rakyatnya. Garis vertikal melambangkan penguasa di puncak dan rakyat di bawahnya, menegaskan strata sosial pada masa itu. Simbol kebangsawanan ini biasanya terletak di kepala sarung (kafala lifaq), menandakan penghormatan masyarakat kepada raja.

Babak Kotak-Kotak (1600-an)

Pada masa ini, masyarakat mulai memadukan garis horizontal dan vertikal, menghasilkan motif kotak-kotak (balo lobang).

Kotak-Kotak Besar (Balo Lobang)
Motif ini menggunakan warna-warna mencolok seperti merah dan emas, melambangkan kekuasaan dan tanggung jawab besar. Motif ini biasanya digunakan oleh pria bangsawan yang belum menikah.

Kotak-Kotak Kecil (Balo Renniq)
Motif ini lebih halus dan feminim, mencerminkan kelembutan dan keteguhan perempuan Bugis. Warna yang digunakan lebih lembut, seperti merah jambu dan hijau muda, yang sering dipakai oleh gadis-gadis bangsawan.

Babak Bergambar (1900-an)

Pada babak ini, kreativitas penenun Bugis berkembang pesat dengan munculnya motif berbentuk zigzag (balo bombang), runcing (balo coboq), dan spiral (balo mappagiling).

Motif Gelombang (Balo Bombang)
Melambangkan kehidupan yang naik turun seperti gelombang laut. Motif ini sering dipadukan dengan warna gradasi yang lembut.

Motif Runcing (Balo Coboq)
Motif ini sering digunakan dalam prosesi adat pernikahan, menggambarkan keteguhan dan keberanian.

Motif Spiral (Balo Mappagiling)
Dikenal melalui legenda seorang istri yang ditinggalkan suaminya, motif ini menjadi simbol kesetiaan dan harapan.

Babak Motif Permukaan

Memasuki abad ke-20, teknologi alat tenun semakin maju. Motif bergambar bunga seperti balo matahari dan balo bunga kertas muncul, mencerminkan kesuburan tanah Wajo yang strategis.

Motif-motif ini tidak hanya menghias sarung, tetapi juga merepresentasikan nilai budaya, hubungan sosial, dan keyakinan masyarakat Bugis. Sarung sutera Bugis menjadi simbol kebangsawanan, tanggung jawab, dan religiusitas yang diwariskan lintas generasi.

Kerajinan sarung sutera Bugis hingga kini tetap menjadi salah satu warisan budaya Indonesia yang penuh nilai estetika dan filosofi. (fit/in)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *