Penulis: Widiawati
Pada hamparan perbukitan Desa Harapan, Kecamatan Tanete Riaja, Kabupaten Barru, terbentang hamparan rumput yang dalam beberapa tahun terakhir menarik minat wisatawan. Destinasi wisata ini bernama Lappa Laona, nama Lappa Laona ini sendiri berasal dari bahasa Bugis yang merujuk pada hamparan lapangan luas sejauh mata memandang. Lahan hamparan rumput seluas sekitar lima hektare ini berada di ketinggian kurang lebih 1.000 meter di atas permukaan laut.
Secara geografis, Lappa Laona berjarak sekitar 130–134 kilometer di utara Makassar dengan waktu tempuh sekitar 3–3,5 jam perjalanan darat, tergantung rute dan kondisi lalu lintas. Dari pusat Kabupaten Barru, jaraknya kurang lebih 50 kilometer. Destinasi ini mulai dipromosikan sejak 13 Maret 2018 setelah pemerintah daerah dan masyarakat desa membuka akses bagi wisatawan. Sejak itu, kawasan yang sebelumnya sunyi perlahan menjadi titik kunjungan populer di Barru.
Akses menuju kawasan ini kerap menjadi tantangan pertama bagi pengunjung. Jalan terjal, sempit, berbatu, dan minim penanda membuat perjalanan menyerupai petualangan kecil. Pada 2019, seorang pengunjung berinisial Salsa (20) mendapati kawasan tersebut masih dalam kondisi awal. “Tidak ada fasilitas waktu itu. Jalannya masih tanah bercampur batu. Motor mudah selip kalau tidak pelan,” ujarnya. Di puncak, suasananya hening. “Hanya padang rumput dan kabut. Tidak ada gazebo, warung, dan masih sangat sepi pengunjung,” tambahnya. Menurut Salsa, Lappa Laona saat itu belum tampak sebagai objek wisata, melainkan bentang alam yang dibiarkan apa adanya.
Dalam beberapa tahun, Lappa Laona bertransformasi. Akses jalan menuju puncak kini sebagian besar beraspal meski masih menyisakan tanjakan dan tikungan khas perbukitan. Di hamparan rumput, gazebo berbentuk segitiga berjajar sebagai penanda visual kawasan. Area camping ground memberi ruang bagi komunitas dan keluarga yang ingin bermalam, sementara spot swafoto yang tertata menambah opsi aktivitas. Pada pagi tertentu, pengunjung datang sejak subuh untuk memburu kabut yang menggulung di sekitar bukit, panorama yang oleh warga dijuluki “negeri di atas awan”.
Di Sulawesi Selatan, Lappa Laona sering dibandingkan dengan kawasan berkabut di Tana Toraja yang lebih dulu dikenal publik. Namun dari Makassar, jarak menuju Toraja mencapai 315–330 kilometer dengan waktu tempuh 7–8 jam. Lappa Laona menawarkan pengalaman serupa menikmati perbukitan dan kabut pagi, tetapi dengan separuh jarak dan waktu tempuh yang jauh lebih singkat. Aksesibilitas ini menjadi salah satu keunggulan utama bagi warga Makassar yang ingin menikmati akhir pekan tanpa perjalanan panjang.
Transformasi fisik kawasan turut menggerakkan ekonomi lokal. Beberapa warga membuka warung kecil, menjual minuman hangat dan makanan, sementara lainnya menjadi penunjuk jalan informal atau penjaga area camping. Lappa Laona kini dipandang bukan hanya sebagai lanskap, tetapi sebagai aset desa yang dapat menghasilkan pendapatan.
Namun bagi sebagian pengunjung awal, perubahan menghadirkan ambivalensi. Alam yang dulu sepi kini berbagi ruang dengan kamera, tenda, dan fasilitas wisata. Salsa yang kembali berkunjung mengakui merasakan dengan nyata transformasi yang siginifikan pada wisata Lappa Laona tersebut. “Sekarang lebih ramai dan jalannya lebih bagus. Enak untuk yang mau berkemah atau sekadar jalan-jalan,” katanya. Meski demikian, ia menilai hamparan rumput dan udara dingin “masih sama”.
Pemerintah desa dan kabupaten mendorong model pengembangan wisata berbasis alam yang tidak merusak ekosistem. Warga berharap arus wisata dapat membantu perekonomian warga setempat tanpa menghilangkan karakter kawasan.
Lappa Laona menunjukkan proses umum dalam industri wisata alam, yakni dari bentang sunyi yang hanya diketahui warga setempat menjadi destinasi yang dibentuk oleh kebutuhan dan minat publik. Kawasannya berubah, tetapi hamparan rumputnya tetap hijau dan udara dinginnya tetap melekat. Meski semakin ramai, sebagian area masih mempertahankan karakter alam awalnya, terutama saat jumlah pengunjung tidak tinggi.













