Bagi Kartika Gene, sagu bukan sekadar bahan pangan. Dalam perbincangan di Podcast inspirasinusantara.id , Rabu, 10 Desember 2025, ia menyebut “Sagu Pohon Kehidupan”, sebuah istilah yang lahir bukan dari romantisme, melainkan dari pengamatan panjang atas cara sagu hidup bersama manusia dan alamnya. Cara pandang ini menemukan bentuk paling nyata di wilayah Luwu dan Luwu Utara, terutama di Malangke, tempat sagu tidak hanya tumbuh, tetapi menjaga kehidupan. Tulisannya itu telah terbit dalam buku “Setandan Cerita Pangan Sulsel”.
Di Malangke, sagu berdiri di lanskap rawa yang basah dan tenang. Ia tidak menuntut tanah kering atau pupuk tambahan. Akar-akarnya justru mengikat air, menahan banjir, dan menjaga kesuburan sekitarnya. Bagi Kartika Gene, relasi ini penting: sagu tidak menguras alam untuk hidup, tetapi menata ulang keseimbangannya. Karena itu, ia melihat sagu bukan sekadar tanaman pangan, melainkan bagian dari sistem ekologis yang utuh.

Dalam ingatan orang-orang Luwu, sagu hadir sebagai cadangan hidup. Ketika padi gagal panen, sagu tetap berdiri. Ketika cuaca tidak menentu, sagu tidak ikut panik. Ia tumbuh dalam ritmenya sendiri atau lambat, tetapi pasti. Kartika Gene membaca ketahanan ini sebagai bentuk kecerdasan ekologis lokal yang kerap luput dari kebijakan pangan modern. Sagu tidak dirancang untuk memenuhi pasar, tetapi untuk memastikan orang tetap hidup.
Malangke menjadi contoh bagaimana sagu membentuk cara hidup. Pengolahan sagu dilakukan secara kolektif, melibatkan keluarga dan komunitas. Tidak ada paksaan untuk memanen sekaligus, tidak ada target tonase. Sagu dipanen ketika cukup umur, lalu dibiarkan tumbuh kembali. Dalam pandangan Kartika Gene, praktik ini menunjukkan bahwa sagu mengajarkan etika: mengambil secukupnya, memberi waktu bagi alam untuk pulih.
Lebih jauh, sagu juga menyimpan makna sosial. Di Luwu Utara, sagu bukan sekadar makanan, tetapi simbol ketersediaan hidup. Selama sagu masih ada, orang merasa aman. Perasaan aman inilah yang jarang dihitung dalam statistik ketahanan pangan, tetapi sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Kartika Gene menilai, keamanan pangan yang lahir dari sagu bersifat kultural, bukan administratif.
Melihat pengalaman Luwu dan Malangke, Kartika Gene mengingatkan bahwa menyebut sagu sebagai “pohon kehidupan” berarti mengakui batas-batasnya. Sagu tidak cocok dipaksa masuk ke dalam logika produksi massal. Ketika sagu diperlakukan seperti komoditas industri, ia berisiko kehilangan fungsi ekologis dan sosialnya. Rawa dikeringkan, panen dipercepat, dan relasi manusia-alam terputus.
Karena itu, bagi Kartika Gene, menjaga sagu berarti menjaga cara hidup. Bukan dengan memperluas perkebunan secara agresif, melainkan dengan melindungi wilayah tumbuhnya, menghormati pengetahuan lokal, dan membiarkan komunitas tetap menjadi aktor utama. Sagu hidup karena ia diberi ruang, bukan karena ia dipaksa produktif.
Dari Malangke, sagu memberi pelajaran sunyi: kehidupan tidak selalu lahir dari percepatan. Ada pangan yang kuat justru karena ia sabar. Dalam lanskap Luwu dan Luwu Utara, sagu tidak perlu dibela dengan jargon besar. Cukup dipahami sebagai pohon kehidupan, yang selama ini telah bekerja tanpa banyak bicara, menjaga manusia dan alam tetap bertahan. (*/IN)












