Menjaga Rasa, Merawat Budaya: Kearifan Lokal di Balik Deppa Te’tekan Khas Massenrempulu

Penulis : Selvi

Kabupaten Enrekang tidak hanya dikenal dengan pemandangan pegunungannya yang indah, tetapi juga aroma manis yang sering tercium dari dapur-dapur rumah warganya. Salah satu yang paling melegenda adalah Deppa Te’tekan, sebuah penganan berwarna cokelat tua yang selalu menjadi buah bibir para pelancong saat menginjakkan kaki di sana.

Bagi masyarakat setempat, kue ini adalah warisan turun-temurun yang identik dengan identitas daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Meski di daerah tetangga seperti Pinrang orang menyebutnya Cucure Te’ne atau Beppa Cella, di Enrekang sebutan Deppa Te’tekan tetap melekat kuat dan tidak tergantikan. Proses pembuatannya sebenarnya terlihat sangat sederhana dan tidak membutuhkan banyak bahan rumit. Adonannya hanya mengandalkan perpaduan tepung beras, gula merah, dan sedikit air, lalu diberi taburan wijen untuk memperkuat aromanya.

Di beberapa sudut desa, masyarakat masih mempertahankan cara memasak tradisional dengan menggunakan tungku kayu bakar yang memberikan aroma asap yang khas. Namun, seiring perkembangan zaman, banyak pula masyarakat yang kini beralih menggunakan kompor modern untuk mengejar efisiensi produksi harian.

Keunikan utama dari kue ini terletak pada bentuknya yang lonjong menyerupai jari dengan ujung yang sedikit lancip. Saat digoreng hingga garing, teksturnya menjadi sangat kontras antara bagian luar yang crunchy dan bagian dalam yang tetap lembut serta lumer di mulut.

Selain rasanya yang legit dan gurih, Deppa Te’tekan juga berfungsi sebagai camilan kaya energi karena kandungan karbohidratnya yang tinggi. Menikmati satu atau dua potong kue ini cukup untuk memberikan rasa kenyang sekaligus pelengkap sempurna saat bersantai bersama segelas kopi atau teh hangat.

Kini, Deppa Te’tekan telah bertransformasi menjadi oleh-oleh utama yang paling dicari oleh wisatawan yang berkunjung ke Enrekang. Daya tahannya yang cukup lama membuat kue ini sangat aman untuk dibawa menempuh perjalanan jauh sebagai buah tangan bagi keluarga di rumah.

“Kue ini sangat unik dan enak, sebaiknya dinikmati saat masih hangat karena teksturnya masih sangat renyah,” ujar Ibu Aisyah, seorang wisatawan yang sengaja singgah untuk memborong camilan tersebut. Beliau juga menambahkan bahwa keawetan kue ini menjadikannya pilihan oleh-oleh paling praktis dan tidak mengecewakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *