INSPIRASI NUSANTARA-Perayaan Tahun Baru Imlek di berbagai kota di Indonesia masih ditandai dengan penyajian hidangan khas yang mengandung makna simbolik. Tradisi kuliner ini dijalankan oleh keluarga Tionghoa saat Imlek sebagai bagian dari perayaan tahunan yang berlangsung pada akhir Januari atau awal Februari, bertepatan dengan pergantian tahun dalam kalender lunar.
Hidangan Imlek disajikan di rumah-rumah keluarga, baik dalam lingkup keluarga inti maupun keluarga besar. Makanan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jamuan, tetapi juga menjadi medium penyampaian harapan dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi, terutama di lingkungan perkotaan yang ritme hidupnya semakin cepat.
Beberapa makanan yang umum disajikan antara lain ikan utuh, pangsit, kue keranjang, jeruk mandarin, dan mi panjang umur. Ikan yang disajikan tanpa dipotong dimaknai sebagai simbol kelimpahan dan keberlanjutan rezeki sepanjang tahun. Pangsit, dengan bentuk menyerupai koin kuno, kerap diartikan sebagai doa akan kestabilan ekonomi dan kesejahteraan keluarga.
Kue keranjang atau nian gao melambangkan kelekatan dan keharmonisan antaranggota keluarga. Secara bahasa, nian gao juga dimaknai sebagai harapan agar kehidupan di tahun yang baru mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Sementara itu, jeruk mandarin dipilih karena warna dan bentuknya yang diasosiasikan dengan keberuntungan dan umur panjang, serta kerap dibagikan kepada kerabat dan tamu sebagai simbol berbagi.
Mi panjang umur menjadi bagian dari hidangan Imlek yang disajikan panjang dan tidak dipotong. Tradisi ini dimaknai sebagai harapan akan kehidupan yang berkelanjutan, kesehatan, dan keseimbangan hidup, khususnya bagi keluarga yang tinggal di kota dengan tekanan kerja dan aktivitas tinggi.
Budayawan Tionghoa Lina Hartono menjelaskan bahwa makna hidangan Imlek tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial masyarakat yang merayakannya. “Hidangan Imlek bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi cara keluarga mengekspresikan harapan dan nilai di tengah perubahan zaman. Di kota, maknanya justru semakin penting karena menjadi pengikat identitas,” kata Lina.
Menurutnya, meski bentuk perayaannya menyesuaikan dengan gaya hidup urban, substansi makna hidangan Imlek tetap dipertahankan. Tradisi kuliner ini menjadi sarana menjaga relasi keluarga sekaligus menegaskan identitas budaya di tengah dinamika kehidupan perkotaan yang terus berubah.
Melalui hidangan Imlek, keluarga Tionghoa di berbagai kota tidak hanya merayakan pergantian tahun, tetapi juga merawat nilai kebersamaan dan optimisme menghadapi tahun yang baru.(eva/IN)













