Banner Pajak

Menguak Fakta Air Sumur Keruh di Wajo, Ahli Pastikan Bukan Akibat Kebocoran Gas Sengkang

Media sosial di Sulawesi Selatan diramaikan oleh keluhan warga mengenai kondisi air sumur bor di wilayah Wajo yang mendadak berubah warna menjadi keruh kecokelatan dan mengeluarkan aroma menyengat.

WAJO,inspirasinusantara.id- Media sosial di Sulawesi Selatan diramaikan oleh keluhan warga mengenai kondisi air sumur bor di wilayah Wajo yang mendadak berubah warna menjadi keruh kecokelatan dan mengeluarkan aroma menyengat.

Berdasarkan laporan unggahan video amatir warga di akun informasi lokal ⁠@wajoinfo dan ⁠@makassar_iinfo⁠, rekaman yang memperlihatkan air sumur bor mengeluarkan buih gas hingga menyala saat disulut api tersebut memicu kecemasan netizen. Narasi yang beredar di platform TikTok mengklaim bahwa fenomena ini dipicu oleh dampak kebocoran aktivitas eksplorasi gas bumi di daratan Sengkang.

Menyikapi kekhawatiran yang viral tersebut, tim teknis dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Sulawesi Selatan bersama ahli geologi melakukan peninjauan lapangan dan pengujian sampel air.

Berdasarkan dokumen Laporan Hasil Uji Laboratorium Kualitas Air Domestik dari DLH Provinsi Sulawesi Selatan, perubahan fisik pada air sumur warga murni disebabkan oleh faktor hidrogeologi alami. Memasuki fase perubahan cuaca pada Juli 2026 ini, terjadi fluktuasi permukaan air tanah dangkal yang mengangkat endapan sedimen lokal secara alami.

Data teknis dari Peta Geologi Lembar Sengkang yang dikeluarkan oleh Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia menunjukkan bahwa karakteristik tanah di dataran rendah Wajo memiliki kandungan zat besi dan mangan alami yang sangat tinggi. Endapan inilah yang memicu warna keruh serta aroma khas logam saat debit air tanah berfluktuasi.

Mengenai video gelembung air sumur yang bisa menyala, ahli geologi memastikan hal tersebut merupakan pelepasan gas rawa dangkal (shallow gas) organik dari lapisan sedimen purba yang bersifat lokal, sehingga tidak berkaitan dengan jalur pengeboran gas komersial di kedalaman ribuan meter.

Dampak dari keruhnya sumur bor ini membuat sebagian warga beralih mengandalkan pasokan air bersih dari jaringan daerah. Menanggapi situasi tersebut, Direktur PDAM Tirta Danau Tempe, Gusti Andi Mangkroda, turun memantau langsung kondisi pelayanan di Instalasi Kota Kecamatan (IKK) Tanasitolo.

Berdasarkan hasil pemantauan langsung di lokasi IKK Tanasitolo, pasokan air memang diakui kurang lancar akibat adanya fluktuasi teknis dan tingginya permintaan mendadak dari warga setempat. Pihak PDAM kini tengah melakukan optimalisasi debit air guna memastikan distribusi air bersih ke rumah tangga kembali stabil.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan isu lingkungan di ruang publik memerlukan sinergi data ilmiah yang transparan dari instansi berwenang serta percepatan perbaikan infrastruktur air bersih.

Langkah taktis melalui rilis data laboratorium resmi dari DLH serta penanganan langsung dari PDAM Tirta Danau Tempe di Tanasitolo dinilai penting untuk menjaga ketenangan warga sekaligus memastikan kemandirian akses air bersih keluarga di Sulawesi Selatan.(Sls/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *