MAKASSAR,insprasinusantara.id- Krisis air bersih Makassar mulai terasa luas dan nyata. Sebanyak 12.717 rumah di enam kecamatan terdampak kekeringan parah. Pasokan air untuk kebutuhan harian kini menipis. Warga terpaksa membatasi penggunaan air setiap hari. Krisis air bersih Makassar ini dipicu kemarau panjang di Sulawesi Selatan.
Sejak awal Juni, ancaman krisis air bersih Makassar sudah terdeteksi. Hasil kaji cepat penanggulangan bencana menunjukkan kondisi ini serius. Pemerintah daerah terus memantau dampaknya di lapangan. Enam kecamatan terdampak meliputi Ujung Tanah, Tallo, dan Biringkanaya. Selain itu Tamalanrea, Panakkukang, dan Manggala juga mengalami hal sama. Total warga terdampak krisis air bersih Makassar mencapai 50.342 jiwa.
Jumlah itu setara 14.564 kepala keluarga. Rinciannya 24.192 laki-laki dan 26.150 perempuan. Pendataan dilakukan BPBD Makassar sejak 1 Juni hingga 9 Juli 2026. Kepala Pelaksana BPBD Makassar, Muhammad Fadli Tahar, menjelaskan situasinya. Ia menyebut sekitar 53 ribu jiwa berpotensi terdampak. “Berdasarkan hasil asesmen BPBD Kota Makassar, terdapat sekitar 53 ribu jiwa yang berpotensi terdampak bencana kekeringan,” ujarnya.
Ia juga menyebut separuh warga sudah terdampak langsung. Mayoritas adalah warga tanpa akses pipa air bersih. Mereka bergantung pada sumur dangkal setiap hari. “Sekitar 50% masyarakat telah terdampak secara langsung, terutama warga yang selama ini mengandalkan air tanah sebagai satu-satunya sumber air bersih,” jelasnya.
Sementara itu, pelanggan jaringan PDAM masih relatif aman. Namun kondisi ini tetap harus diwaspadai. Cadangan air baku terus menurun akibat cuaca kering. Muhammad Fadli Tahar mengingatkan kondisi ini bisa memburuk. “Berdasarkan perkembangan cuaca dan kondisi sumber air baku, cadangan air PDAM diperkirakan akan terus mengalami penurunan,” katanya.
Jika kemarau terus berlanjut, cadangan air bisa cepat habis. Perhitungan menunjukkan cadangan hanya bertahan terbatas. “Apabila kondisi cuaca kering seperti saat ini terus berlanjut, maka cadangan air PDAM diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar 30 hari ke depan,” tambahnya.
Data meteorologi menunjukkan masa kritis masih panjang. Puncak kemarau diprediksi terjadi September. Kondisi kering bisa berlanjut hingga Oktober 2026. Informasi ini merujuk pada data BMKG. Muhammad Fadli Tahar menegaskan waktunya. “Puncaknya itu bulan 9 (September) hingga 10 (Oktober),” ungkapnya.
Saat ini, bantuan air bersih mulai disalurkan. Prioritas diberikan ke wilayah tanpa akses PDAM. Petugas terus siaga di lapangan. Distribusi air dilakukan agar merata. “Langkah-langkah antisipatif dan kesiapsiagaan terus disiapkan untuk menghindari meluasnya dampak kekeringan terhadap masyarakat,” jelasnya.
Wilayah paling terdampak ada di Biringkanaya. Sebanyak 14.787 jiwa dan 4.084 rumah terdampak. Warga di sana menghadapi kelangkaan air paling tinggi. Mereka harus menghemat air setiap hari. Di Tallo, tercatat 13.762 jiwa dan 2.862 rumah terdampak. Di Tamalanrea ada 9.947 jiwa dan 2.922 rumah terdampak.
Dampak juga terasa di Manggala dengan 7.610 jiwa dan 1.959 rumah. Di Ujung Tanah, ada 2.921 jiwa dan 645 rumah terdampak. Sementara di Panakkukang, terdapat 1.324 jiwa dan 245 rumah terdampak. Seluruh data ini dihimpun hingga Kamis, 16 Juli 2026. Krisis air bersih Makassar kini menjadi ancaman nyata yang terus diawasi.(sal/IN)














