MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Pembangunan stadion bukan sekadar soal menghadirkan bangunan olahraga baru di Kota Makassar. Di balik proyek tersebut ada pertanyaan yang lebih penting bagi warga: mengapa stadion perlu dibangun, siapa yang akan menggunakannya, dan manfaat apa yang akan kembali ke masyarakat?
Pertanyaan itu relevan ketika Stadion Untia masuk dalam daftar proyek strategis Pemerintah Kota Makassar yang menjadi perhatian dalam evaluasi pembangunan 2026. Proyek ini berjalan bersamaan dengan sejumlah agenda lain, mulai dari pendidikan, kesehatan, pemerintahan hingga ruang publik.
Bagi pemerintah, stadion dapat menjadi bagian dari penguatan infrastruktur olahraga kota. Namun bagi publik, proyek dengan penggunaan anggaran pemerintah perlu dilihat dari manfaat akhirnya, bukan hanya dari kemegahan bangunannya.
Stadion dan Masa Depan Olahraga Makassar
Stadion merupakan infrastruktur yang memiliki fungsi lebih luas daripada tempat pertandingan. Jika dirancang dan dikelola dengan baik, fasilitas olahraga dapat menjadi ruang untuk pertandingan, pembinaan atlet, kegiatan komunitas hingga penyelenggaraan event olahraga.
Karena itu, penting memastikan pembangunan Stadion Untia tidak berhenti sebagai proyek fisik. Fasilitas tersebut perlu memiliki fungsi yang jelas setelah pembangunan selesai. Pertanyaan mengenai siapa pengguna stadion juga menjadi penting. Apakah hanya digunakan untuk pertandingan profesional, atau juga dapat diakses atlet muda, sekolah, komunitas dan masyarakat?
Semakin luas fungsi yang dapat diberikan, semakin besar pula potensi manfaat sosial dari investasi pemerintah tersebut.
Mengapa Masuk Proyek Strategis?
Stadion Untia merupakan salah satu proyek strategis yang mendapat perhatian Pemerintah Kota Makassar. Dalam agenda evaluasi proyek strategis, pemerintah juga menempatkan sejumlah program lain, yakni Makassar Government Center (MGC) tahap II, pembangunan Kantor Dinas Pendidikan, lanjutan Puskesmas Ujung Pandang Baru, seragam sekolah gratis, PAUD Negeri Tamalanrea dan revitalisasi Lapangan Karebosi. Artinya, stadion tidak berdiri sendiri.
Pemerintah sedang menjalankan berbagai proyek dengan fungsi berbeda. Stadion berada pada sektor olahraga, sementara program lainnya menyasar pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan dan ruang publik.
Karena itu, masing-masing proyek membutuhkan ukuran keberhasilan yang berbeda.
Bukan Hanya Soal Selesai Dibangun
Proyek publik sering kali mudah dinilai dari satu ukuran: selesai atau tidak selesai.
Padahal, sebuah stadion baru benar-benar memberikan manfaat ketika sudah dapat digunakan sesuai tujuan pembangunannya.
Misalnya, fasilitas pertandingan harus berfungsi dengan baik. Atlet membutuhkan fasilitas latihan dan kompetisi. Komunitas membutuhkan ruang aktivitas. Masyarakat membutuhkan akses untuk menikmati kegiatan olahraga.
Jika bangunan selesai tetapi minim pemanfaatan, manfaat ekonominya bagi kota dan masyarakat tentu tidak maksimal.
Karena itu, sejak awal pemerintah perlu memikirkan model pemanfaatan dan pengelolaan stadion setelah konstruksi selesai.
Ada Efek ke Ekonomi Kota?
Stadion juga dapat memiliki hubungan dengan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Ketika pertandingan atau event digelar, aktivitas masyarakat dapat meningkat. Pedagang, transportasi, usaha makanan dan berbagai layanan pendukung berpotensi ikut bergerak.
Namun, manfaat ekonomi tersebut tidak otomatis muncul hanya karena stadion berdiri. Dibutuhkan agenda kegiatan yang konsisten, akses yang mudah serta pengelolaan kawasan yang mampu menghubungkan fasilitas olahraga dengan pelaku ekonomi lokal.
Dengan demikian, stadion dapat dipandang bukan hanya sebagai aset olahraga, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kota.
Proyek Lain Tetap Harus Berjalan
Di saat Stadion Untia mendapat perhatian, program strategis lain juga menyangkut kebutuhan sehari-hari warga.
Seragam sekolah gratis berkaitan langsung dengan kebutuhan keluarga yang memiliki anak sekolah.Pembangunan Puskesmas Ujung Pandang Baru berkaitan dengan akses pelayanan kesehatan.
PAUD Negeri Tamalanrea menyasar layanan pendidikan anak usia dini.
Sementara MGC tahap II dan Kantor Dinas Pendidikan berkaitan dengan fasilitas pemerintahan, sedangkan revitalisasi Karebosi menyentuh ruang publik.
Perbedaan fungsi tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kota tidak bisa hanya diukur dari proyek terbesar atau bangunan paling mencolok. Setiap program harus dilihat berdasarkan masalah yang hendak diselesaikan.
Pertanyaan untuk Stadion Untia
Karena itu, ada beberapa pertanyaan publik yang penting mengikuti pembangunan Stadion Untia.
Pertama, apa masalah olahraga yang ingin diselesaikan?
Kedua, siapa kelompok masyarakat yang menjadi pengguna utama?
Ketiga, bagaimana stadion akan dikelola setelah selesai?
Keempat, bagaimana memastikan fasilitas tersebut tidak hanya digunakan pada event tertentu?
Dan yang paling penting, apa indikator bahwa pembangunan stadion benar-benar berhasil?
Pertanyaan tersebut penting karena proyek pemerintah pada akhirnya menggunakan sumber daya publik.
Warga tidak hanya membutuhkan bangunan baru. Mereka membutuhkan manfaat yang nyata dari bangunan tersebut.
Stadion bisa menjadi simbol baru Kota Makassar. Tetapi nilai sebenarnya akan ditentukan oleh apa yang terjadi setelah lampu stadion menyala: apakah atlet bertumbuh, event olahraga hadir, komunitas mendapatkan ruang, ekonomi sekitar bergerak, dan masyarakat dapat ikut menikmati fasilitas tersebut.
Jadi, mengapa stadion menjadi penting? Bukan semata karena Makassar membutuhkan stadion baru, tetapi karena kota membutuhkan infrastruktur olahraga yang benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi warganya. (*/IN)














