Banner Pajak

Pemprov Sulsel Kenalkan Literasi Keuangan Sejak Dini

Pemprov Sulsel
EDUKASI. UPT Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pegadaian memilih pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak. (foto:ist)

MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Menabung sejak kecil tidak selalu harus diperkenalkan melalui angka dan teori. UPT Layanan Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan bersama Pegadaian memilih pendekatan yang lebih dekat dengan dunia anak: lomba mewarnai.

Kegiatan bertajuk “Tabungan Emas untuk Masa Depan Anak” tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Republik Indonesia. Kegiatan ini mempertemukan aktivitas kreatif anak dengan pengenalan literasi keuangan, khususnya kebiasaan menabung sejak usia dini.

Lomba tersebut berlangsung di UPT Layanan Perpustakaan, Jalan Sultan Alauddin Km 7, Tala’salapang, Makassar, dan diikuti siswa SD kelas 1, 2, dan 3 dari sejumlah sekolah yang sebelumnya mengikuti kegiatan outing class di perpustakaan.

Di balik kegiatan tersebut terdapat pesan yang lebih luas: literasi keuangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan uang, tetapi juga bagaimana anak mulai mengenal kebiasaan merencanakan masa depan melalui aktivitas yang sesuai dengan usia mereka.

PIC Pegadaian Corner, Feby Primajanti, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai perlombaan, tetapi menjadi ruang untuk membangun kebiasaan positif pada anak.

“Kami berharap kolaborasi antara UPT Layanan Perpustakaan dengan Pegadaian ini dapat terus berlanjut,” ujar Feby. Ia menilai kegiatan semacam ini dapat membantu anak berani berekspresi sekaligus mengenal kebiasaan menabung.

Ketika literasi keuangan masuk ruang anak

Ketua Pelaksana Pegadaian Corner, Desy Selviana, mengatakan lomba mewarnai dipilih sebagai sarana untuk menciptakan ruang kreatif sekaligus memperkenalkan literasi kepada peserta.

“Melalui lomba mewarnai ini kami ingin menciptakan ruang kreatif bagi anak-anak untuk berekspresi,” kata Desy. Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap perpustakaan dan kebiasaan menabung sejak dini.

Tema Tabungan Emas untuk Masa Depan Anak membuat edukasi finansial disampaikan melalui aktivitas yang lebih mudah diterima peserta. Anak-anak tetap mengikuti kegiatan seni, sementara konsep menabung diperkenalkan melalui tema lomba.

Pendekatan ini juga memperluas fungsi perpustakaan. Ruang perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi dapat digunakan sebagai ruang pembelajaran yang mempertemukan literasi membaca dengan pengetahuan praktis yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Hadiah lomba sekaligus mengenalkan tabungan emas

Peserta mendapatkan goodie bag, sertifikat digital, makanan ringan, dan makan siang. Sementara itu, para pemenang memperoleh hadiah dalam bentuk Tabungan Emas Pegadaian.

Juara pertama memperoleh Tabungan Emas senilai Rp1 juta, juara kedua Rp750 ribu, juara ketiga Rp500 ribu. Sementara juara harapan satu, dua, dan tiga masing-masing mendapatkan Rp400 ribu, Rp300 ribu, dan Rp200 ribu.

Pemberian hadiah tersebut membuat konsep yang diperkenalkan dalam lomba tidak berhenti pada materi edukasi. Anak dan keluarga peserta juga diperkenalkan secara langsung dengan salah satu bentuk produk tabungan emas.

Namun, nilai utama kegiatan ini bukan semata nominal hadiah. Yang lebih penting adalah bagaimana pengenalan mengenai pengelolaan keuangan dilakukan sejak anak berada pada tahap awal pendidikan.

Perpustakaan dan lembaga keuangan bertemu

Kolaborasi UPT Layanan Perpustakaan dan Pegadaian juga menunjukkan adanya ruang kerja sama antara institusi literasi publik dengan sektor jasa keuangan untuk membangun edukasi masyarakat.

Bagi perpustakaan, kegiatan tersebut memperluas fungsi ruang literasi. Bagi Pegadaian, kolaborasi menjadi sarana memperkenalkan pengetahuan mengenai tabungan emas kepada kelompok usia anak dan keluarganya.

Keduanya bertemu pada satu kebutuhan: membangun kebiasaan belajar dan mengelola keuangan sejak dini dengan cara yang lebih komunikatif.

Desy berharap kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan sehingga anak tidak hanya mendapatkan ruang untuk berkarya, tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan mereka.

Pada akhirnya, lomba mewarnai ini memperlihatkan bahwa pendidikan literasi keuangan tidak harus selalu hadir dalam bentuk seminar. Ia bisa dimulai dari aktivitas sederhana, menggambar, bermain, membaca, dan mengenal kebiasaan menabung, sebelum anak berhadapan dengan keputusan keuangan yang lebih kompleks ketika dewasa. (*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *