Tidak Mudik Saat Lebaran: Rasionalitas Gen Z atau Tanda Pergeseran Tradisi?

INSPIRASINUSANTARA-Di tengah euforia mudik yang selama ini dianggap sebagai “ritual wajib” Idul Fitri, muncul fenomena yang mulai mengusik: semakin banyak Generasi Z memilih tetap tinggal di kota. Apakah ini tanda lunturnya tradisi, atau justru bentuk rasionalitas baru di tengah tekanan ekonomi yang kian nyata?

Tren “Lebaran di kota” semakin terlihat di berbagai kota besar dalam beberapa tahun terakhir. Lonjakan harga tiket transportasi menjelang hari raya menjadi salah satu faktor utama. Pada periode mudik, harga tiket pesawat dan kereta api kerap mengalami kenaikan signifikan akibat tingginya permintaan, bahkan bisa melonjak hingga puluhan persen dibanding hari biasa.

Kondisi tersebut membuat sebagian generasi muda berpikir ulang untuk pulang kampung. Survei yang dilakukan oleh Katadata Insight Center menunjukkan bahwa faktor biaya menjadi alasan dominan masyarakat menunda atau membatalkan mudik. Di tengah kenaikan harga kebutuhan pokok dan biaya hidup perkotaan, mudik tidak lagi sekadar tradisi, tetapi juga keputusan finansial.

Fenomena ini juga dirasakan langsung oleh kalangan muda. “Tahun ini saya tidak mudik karena tiket mahal. Uangnya lebih baik ditabung atau dipakai kebutuhan lain,” ujar Raka (23), seorang pekerja di Jakarta. Baginya, tetap terhubung dengan keluarga kini tidak harus selalu dilakukan secara fisik.

Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah, menilai fenomena ini sebagai respons rasional terhadap tekanan ekonomi. “Ketika biaya hidup meningkat dan pendapatan relatif tetap, masyarakat akan menyesuaikan pengeluaran. Mudik menjadi salah satu pos yang dipertimbangkan ulang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa generasi muda saat ini cenderung lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan. “Ada perubahan perilaku, terutama pada generasi muda, yang mulai memprioritaskan kebutuhan jangka panjang dibanding pengeluaran konsumtif,” katanya. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keputusan tidak mudik bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan cerminan kondisi ekonomi yang semakin menekan.

Di sisi lain, budaya kerja modern atau hustle culture yang menekankan produktivitas tinggi dan ritme kerja cepat juga turut memengaruhi pilihan tersebut. Banyak pekerja muda memanfaatkan libur Lebaran sebagai waktu untuk beristirahat dan memulihkan kondisi mental setelah rutinitas kerja yang padat.

Sosiolog dari Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, melihat perubahan ini sebagai bagian dari transformasi sosial yang lebih luas. “Generasi muda sekarang lebih fleksibel dalam memaknai tradisi. Mereka tidak meninggalkan nilai silaturahmi, tetapi mencari cara lain yang lebih sesuai dengan kondisi mereka,” ujarnya.

Menurutnya, makna Lebaran kini tidak lagi tunggal. “Lebaran bukan hanya soal pulang kampung, tetapi juga tentang bagaimana seseorang bisa merasa tenang, aman, dan seimbang secara emosional,” jelasnya. Pandangan ini menegaskan bahwa tradisi tidak hilang, melainkan sedang beradaptasi.

Perkembangan teknologi turut mempercepat perubahan tersebut. Video call, pesan instan, hingga media sosial menjadi alternatif untuk tetap terhubung dengan keluarga, meskipun terpisah jarak. Bagi sebagian generasi muda, kehadiran virtual kini dianggap cukup untuk menjaga kedekatan emosional.

Fenomena ini menunjukkan bahwa mudik bukan lagi satu-satunya cara untuk merayakan Idul Fitri. Generasi Z tampak berusaha menyeimbangkan antara nilai budaya, kondisi ekonomi, dan kebutuhan pribadi dalam menentukan pilihan mereka.

Pertanyaannya kini bukan lagi apakah tradisi mudik akan hilang, melainkan apakah masyarakat siap menerima bahwa cara merayakan Lebaran sedang berubah. Di tengah tekanan ekonomi dan dinamika sosial, rasionalitas generasi muda bisa jadi bukan ancaman bagi tradisi, melainkan bentuk adaptasi agar tetap relevan di zamannya.(slv/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *