Jakarta — Isu yang mengaitkan gastroesophageal reflux disease (GERD) dengan kematian mendadak kembali menguat di ruang publik. Percakapan ini berkembang seiring maraknya informasi kesehatan di media sosial, yang kerap beredar tanpa konteks medis yang utuh dan memicu kekhawatiran, terutama di kalangan masyarakat perkotaan.
GERD merupakan keluhan yang umum dialami warga kota, seiring pola hidup yang ditandai jam makan tidak teratur, tingkat stres tinggi, serta konsumsi kafein dan makanan cepat saji. Dalam konteks tersebut, narasi yang menyederhanakan hubungan GERD dan kematian berpotensi membentuk pemahaman risiko yang keliru di masyarakat.
Menanggapi hal tersebut, Spesialis Penyakit Dalam Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH menegaskan bahwa GERD tidak dapat diposisikan sebagai penyebab langsung kematian mendadak. Ia menyatakan hingga kini tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
“GERD bukan penyebab kematian mendadak. Ini adalah penyakit kronis pada saluran cerna yang umumnya bisa dikendalikan dengan pengelolaan yang tepat,” kata Dr. Ari.
Menurut Dr. Ari, kematian mendadak dalam praktik medis lebih sering berkaitan dengan gangguan kardiovaskular, seperti serangan jantung atau gangguan irama jantung, serta kondisi akut lain yang memengaruhi sistem tubuh secara menyeluruh. Sementara itu, GERD cenderung menimbulkan keluhan berulang yang berkembang secara bertahap.
Meski demikian, Dr. Ari mengakui adanya irisan gejala antara GERD dan gangguan jantung, terutama pada keluhan nyeri dada. Dalam kehidupan perkotaan yang serba cepat, kesamaan gejala ini dapat menyebabkan salah tafsir, ketika keluhan serius dianggap sebagai masalah asam lambung biasa dan penanganan medis menjadi tertunda.
“Kalau nyeri dada dianggap hanya GERD, padahal sumbernya gangguan jantung, itu yang berbahaya,” ujarnya.
Dr. Ari menjelaskan bahwa GERD yang tidak terkontrol memang dapat memicu komplikasi, seperti perdarahan saluran cerna atau aspirasi asam lambung ke saluran pernapasan. Namun, komplikasi tersebut tergolong jarang dan umumnya terjadi pada pasien dengan penyakit penyerta atau keterlambatan penanganan.
Ia juga menyoroti derasnya arus informasi kesehatan di media sosial yang tidak selalu disertai penjelasan medis yang memadai. Menurut Dr. Ari, kondisi ini menjadi tantangan dalam meningkatkan literasi kesehatan publik dan berpotensi memicu kepanikan yang tidak perlu.
“Diagnosis penyakit atau penyebab kematian tidak bisa ditentukan dari asumsi. Semua harus melalui pemeriksaan medis yang menyeluruh,” kata Dr. Ari.
Dalam konteks kehidupan kota dengan tingkat stres tinggi dan keterbatasan waktu, Dr. Ari mengimbau masyarakat untuk mengelola GERD secara konsisten melalui pengaturan pola makan, perubahan gaya hidup, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan. Ia juga mengingatkan warga agar segera mencari pertolongan medis jika mengalami nyeri dada hebat, sesak napas, atau keluhan yang muncul secara tiba-tiba.(fira/IN)













