Pola Begadang Makin Lazim, Risiko Gangguan Saraf Mengintai

JAKARTA, inspirasinusantara.id—Kebiasaan begadang semakin sering ditemui di wilayah perkotaan seiring meningkatnya penggunaan gawai, jam kerja fleksibel, serta aktivitas daring hingga larut malam. Kondisi ini memicu perhatian kalangan medis karena dinilai dapat berdampak pada kesehatan sistem saraf dan kemampuan konsentrasi jika berlangsung terus-menerus.

Dokter Johan Akbari menjelaskan bahwa tidur memiliki peran krusial bagi fungsi otak. Ia menyebut selama fase tidur fisiologis, terjadi proses pemulihan jaringan saraf sekaligus pembersihan zat sisa metabolisme yang berpotensi merusak jaringan.

Ia menerangkan bahwa kurang tidur yang terjadi secara berulang dapat mengganggu mekanisme biologis tersebut. Menurutnya, kondisi itu pada akhirnya bisa menurunkan fungsi otak, termasuk kemampuan fokus, daya ingat, dan ketajaman berpikir yang dibutuhkan dalam aktivitas harian.

Johan juga menjelaskan bahwa pasien dengan pola tidur tidak teratur kerap datang dengan keluhan sulit berkonsentrasi, cepat mengalami kelelahan mental, sakit kepala berulang, hingga perubahan suasana hati. Keluhan tersebut, katanya, banyak dialami kelompok usia produktif yang aktivitas malamnya semakin padat.

Dalam konteks kehidupan kota yang menuntut mobilitas tinggi, ia menilai kebiasaan begadang tidak bisa dipandang sebagai persoalan sepele. Kurang tidur kronis, menurut Johan, berpotensi memengaruhi performa belajar dan bekerja serta menurunkan kualitas hidup apabila tidak segera diperbaiki.

Ia menambahkan bahwa secara fisiologis, kurang tidur juga berkaitan dengan peningkatan hormon stres dalam tubuh. Kondisi ini membuat sistem saraf berada dalam keadaan siaga lebih lama dan dapat memperberat gangguan konsentrasi maupun kestabilan emosi.

Meski begitu, Johan menegaskan begadang sesekali belum tentu langsung menimbulkan dampak serius. Namun, pola tidur yang terus terganggu perlu dianggap sebagai sinyal peringatan dini. Ia menganjurkan masyarakat menjaga durasi tidur sekitar tujuh hingga sembilan jam per malam, mengurangi paparan layar menjelang waktu istirahat, serta membangun rutinitas malam yang membantu tubuh bersiap untuk tidur.

Pemeriksaan medis juga disarankan apabila keluhan seperti sulit fokus, mudah lupa, atau gangguan tidur muncul berulang dan mulai menghambat aktivitas harian, agar penyebabnya dapat dipastikan sekaligus mencegah dampak lanjutan terhadap kesehatan sistem saraf.(frh/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *