MAKASSAR,inspirasinusantara.id — Ketimpangan distribusi air di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, masih menjadi faktor yang menghambat produktivitas pertanian. Sistem irigasi yang belum merata membuat sebagian lahan tidak mendapatkan suplai air secara konsisten.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan merespons kondisi ini melalui program rehabilitasi jaringan irigasi. Program tersebut ditargetkan menjangkau sekitar 6.400 hektare lahan persawahan agar terintegrasi dengan sistem pengairan yang lebih baik.
Gubernur Sulawesi Selatan, Andi Sudirman Sulaiman, mengatakan pembenahan irigasi difokuskan pada perbaikan distribusi air yang selama ini tidak merata di sejumlah wilayah pertanian.
Menurutnya, integrasi jaringan irigasi menjadi langkah penting agar aliran air tidak lagi terpusat di titik tertentu. Dengan sistem yang lebih tertata, lebih banyak lahan diharapkan dapat teraliri secara optimal.
Program rehabilitasi ini juga mencakup wilayah lain di utara Sulawesi Selatan, yakni Enrekang, Toraja Utara, Luwu, dan Luwu Timur. Secara keseluruhan, terdapat delapan daerah irigasi yang menjadi fokus penanganan dalam proyek ini.
Delapan daerah irigasi tersebut meliputi Tallung Ura, Balombong, Makawa, Lengkong Pini, Bungadidi, Kuri-kuri Kasambi, Tubu Ampak, dan Angkona. Perbaikan di titik-titik ini diarahkan untuk mengurangi ketimpangan distribusi air yang selama ini menjadi kendala.
Andi Sudirman juga menekankan pentingnya kelancaran pelaksanaan proyek agar manfaatnya dapat segera dirasakan. “Kami berharap seluruh proses pengerjaan dapat berjalan sesuai rencana dan hasilnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan proyek ini berjalan tepat waktu dan mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Dengan distribusi air yang lebih merata, hasil panen di Luwu Utara diharapkan menjadi lebih stabil.














