Banner Pajak
Budaya  

Budaya Lokal A’ Juru’-Juru’ Menjaga Kehidupan Masyarakat Gowa

Budaya Lokal
TERJAGA. Budaya Lokal A' Juru'-Juru' di Gowa. (foto:ist)

MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Budaya lokal di Sulawesi Selatan yang juga merupakan tradisi panen masih bertahan di berbagai daerah Indonesia, meskipun modernisasi telah mengubah cara masyarakat bertani dan menjalani kehidupan sehari-hari. Di tengah perubahan tersebut, sebagian budaya lokal justru tetap dipelihara karena tidak hanya berfungsi sebagai seremoni, tetapi juga menjadi ruang untuk mewariskan nilai-nilai kehidupan.

Lalu, mengapa sebuah budaya lokal pasca panen masih dipertahankan ketika teknologi mampu menggantikan banyak aktivitas manusia? Pertanyaan ini dijawab melalui penelitian mengenai A’ Juru’-Juru’, budaya lokal masyarakat Desa Jonjo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Gowa, yang memperlihatkan bahwa ritual adat masih memiliki peran penting dalam menjaga hubungan sosial, spiritual, dan budaya.

Penelitian yang dilakukan Fikran Febriansyah menunjukkan bahwa A’ Juru’-Juru’ merupakan bagian dari budaya lokalyang tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas hasil panen, tetapi juga menjadi media untuk merawat identitas masyarakat Bugis-Makassar di tengah perubahan zaman.

Mengapa Budaya Lokal Ini Tetap Bertahan?

Perubahan teknologi memang membuat sektor pertanian menjadi lebih efisien. Namun, modernisasi tidak selalu mampu menggantikan fungsi sosial yang selama ini dijalankan oleh tradisi.

Di Desa Jonjo, A’ Juru’-Juru’ masih dilaksanakan sebelum musim tanam dan setelah panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus doa agar musim berikutnya membawa keberkahan.

Tradisi tersebut juga menjadi momen ketika masyarakat berkumpul, mempererat hubungan sosial, dan memperkuat rasa memiliki terhadap budaya yang diwariskan oleh leluhur.

Apa Makna Tradisi A’ Juru’-Juru’?

A’ Juru’-Juru’ merupakan tradisi adat yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam masyarakat Desa Jonjo.

Pelaksanaannya melibatkan tokoh adat, pemerintah desa, dan masyarakat yang mengikuti rangkaian kegiatan bersama sebagai ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus harapan agar proses bercocok tanam berikutnya berjalan dengan baik.

Tradisi ini memperlihatkan bahwa masyarakat tidak memandang hasil pertanian semata sebagai buah kerja manusia, tetapi juga sebagai nikmat yang patut disyukuri.

Nilai Apa yang Dijaga Melalui Tradisi Ini?

Dalam penelitiannya, Fikran Febriansyah menggunakan perspektif hierarki nilai dari filsuf Max Scheleruntuk memahami makna yang terkandung dalam A’ Juru’-Juru’.

Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa setiap tindakan manusia dipengaruhi oleh nilai yang dianggap penting dalam kehidupannya.

Penelitian menemukan bahwa tradisi A’ Juru’-Juru’ memuat empat tingkatan nilai.

Pertama, nilai kenikmatan, yang terlihat dari rasa syukur, kebahagiaan, dan suasana kebersamaan saat tradisi berlangsung.

Kedua, nilai vital, yang tercermin melalui semangat gotong royong, kerja sama, dan harapan agar hasil pertanian dapat menopang kehidupan masyarakat.

Ketiga, nilai kejiwaan, yang tampak dalam penghormatan terhadap adat, kepedulian kepada sesama, serta upaya menjaga keharmonisan kehidupan bermasyarakat.

Nilai tertinggi adalah nilai kerohanian. Masyarakat memaknai seluruh rangkaian A’ Juru’-Juru’ sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT dan ungkapan syukur atas rezeki yang diterima. Tradisi menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, bukan tujuan yang disakralkan.

Mengapa Tradisi Ini Lebih dari Sekadar Ritual?

Temuan penelitian menunjukkan bahwa A’ Juru’-Juru’ memiliki fungsi sosial yang jauh lebih luas dibanding sekadar kegiatan tahunan.

Tradisi ini menjadi ruang bertemunya berbagai generasi untuk memperkuat solidaritas, mewariskan pengetahuan lokal, dan mengenalkan nilai budaya kepada anak-anak serta generasi muda.

Proses tersebut membuat budaya diwariskan melalui pengalaman bersama, bukan hanya melalui cerita atau catatan sejarah.

Apa Tantangan Budaya Lokal di Era Modern?

Perubahan sosial yang berlangsung cepat membuat sebagian masyarakat semakin jarang terlibat dalam tradisi daerahnya.

Urbanisasi, perkembangan teknologi, serta perubahan pola kehidupan menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan budaya lokal.

Meski demikian, penelitian ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus bertentangan dengan modernisasi. Tradisi dapat tetap hidup selama masyarakat memahami nilai yang terkandung di balik setiap pelaksanaannya.

Mengapa A’ Juru’-Juru’ Masih Relevan?

Penelitian Fikran Febriansyah memperlihatkan bahwa A’ Juru’-Juru’ bukan sekadar warisan budaya pertanian.

Tradisi ini mengajarkan pentingnya rasa syukur, gotong royong, kepedulian sosial, penghormatan terhadap adat, dan hubungan spiritual yang tetap relevan dalam kehidupan masyarakat modern.

Pada akhirnya, menjaga budaya lokal bukan hanya mempertahankan sebuah upacara adat agar terus dilaksanakan. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan nilai-nilai yang diwariskan melalui tradisi tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari. Ketika nilai itu terus dipraktikkan, budaya lokal tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga menjadi fondasi untuk membangun masyarakat yang tetap berakar pada identitasnya di tengah perubahan zaman. (*/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *