MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Kemajuan teknologi membuat sektor pertanian semakin efisien. Traktor menggantikan tenaga pembajak, mesin panen mempercepat proses memanen, sementara bibit unggul membantu meningkatkan hasil produksi. Di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul persoalan lain yang jarang dibahas, yakni semakin berkurangnya kesempatan kerja bagi petani kecil yang tidak memiliki lahan.
Lalu, bagaimana masyarakat mempertahankan akses penghidupan bagi petani yang kehilangan peluang bekerja akibat modernisasi? Di Kelurahan Salokaraja, Kabupaten Soppeng, sebuah tradisi bernama massima galung menunjukkan bahwa masyarakat memiliki cara sendiri untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas pertanian dan solidaritas sosial.
Temuan tersebut diungkap dalam penelitian Dewi Sartika Tenriajeng dari Universitas Hasanuddin yang mengkaji massima galung sebagai mekanisme jaminan sosial tradisional pada komunitas petani di Kelurahan Salokaraja.
Mengapa Modernisasi Pertanian Menjadi Tantangan bagi Petani Kecil?
Modernisasi pertanian membawa banyak manfaat. Penggunaan alat mekanis mampu mempercepat pengolahan lahan, mengurangi biaya produksi, dan meningkatkan efisiensi kerja.
Namun, efisiensi juga berarti berkurangnya kebutuhan tenaga kerja. Pekerjaan yang sebelumnya dilakukan banyak orang kini dapat diselesaikan oleh satu mesin dalam waktu lebih singkat.
Di sisi lain, konversi lahan pertanian untuk permukiman maupun sektor lain membuat luas sawah yang dapat digarap semakin berkurang. Akibatnya, petani kecil yang tidak memiliki lahan menghadapi persaingan yang lebih ketat untuk memperoleh pekerjaan maupun lahan garapan.
Modernisasi akhirnya menghadirkan dua sisi sekaligus: meningkatkan produktivitas pertanian, tetapi juga mempersempit akses penghidupan bagi sebagian masyarakat tani.
Apa Itu Massima Galung?
Di tengah perubahan tersebut, masyarakat Salokaraja masih mempertahankan massima galung, yaitu sistem bagi hasil yang memberikan kesempatan kepada petani penggarap untuk mengelola sawah milik orang lain.
Dalam sistem ini terdapat dua pihak. Pemilik sawah atau punna galung memberikan hak menggarap kepada passima, yakni petani yang tidak memiliki atau memiliki lahan terbatas. Hasil panen kemudian dibagi berdasarkan kesepakatan yang telah disetujui bersama.
Sekilas, mekanisme ini tampak seperti hubungan kerja biasa. Namun, penelitian Dewi Sartika Tenriajeng menunjukkan bahwa fungsi massima galung jauh lebih luas dibanding sekadar kerja sama ekonomi.
Mengapa Massima Galung Disebut Jaminan Sosial Tradisional?
Saat mendengar istilah jaminan sosial, banyak orang membayangkan program pemerintah berupa bantuan tunai, asuransi, atau perlindungan sosial.
Dalam konteks masyarakat Salokaraja, jaminan sosial memiliki bentuk yang berbeda.
Melalui massima galung, pemilik lahan membuka akses bagi petani kecil untuk tetap memperoleh pekerjaan dan penghasilan. Dengan demikian, masyarakat yang tidak memiliki sawah tetap memiliki kesempatan memenuhi kebutuhan hidup melalui kegiatan bertani.
Artinya, perlindungan sosial tidak selalu lahir dari kebijakan formal. Dalam sejumlah komunitas, mekanisme tersebut tumbuh dari tradisi, kepercayaan, dan hubungan sosial yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Bagaimana Tradisi Ini Bertahan di Tengah Perubahan?
Penelitian menunjukkan bahwa massima galung tidak berjalan tanpa tantangan.
Persaingan memperoleh lahan garapan semakin meningkat seiring berkurangnya jumlah sawah dan berkembangnya mekanisasi pertanian. Hubungan antara pemilik sawah dan petani penggarap juga dapat berakhir ketika kebutuhan tenaga kerja semakin sedikit.
Meski demikian, sistem ini tetap bertahan karena didukung oleh norma yang hidup dalam masyarakat.
Sebagian aturan diwariskan secara turun-temurun, sementara sebagian lainnya menyesuaikan perubahan kondisi sosial dan ekonomi. Fleksibilitas tersebut membuat massima galung mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai-nilai dasarnya.
Apa Makna Tradisi Ini bagi Masa Depan Pertanian?
Penelitian Dewi Sartika Tenriajeng menunjukkan bahwa teknologi dan tradisi tidak selalu berada pada posisi yang saling bertentangan.
Teknologi memang mampu meningkatkan produktivitas pertanian. Namun, teknologi belum tentu dapat menggantikan fungsi sosial yang selama ini dijalankan oleh hubungan antarmasyarakat.
Massima galung menjadi contoh bahwa sistem lokal dapat berperan sebagai penyangga ekonomi sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah perubahan yang berlangsung cepat.
Mengapa Tradisi Seperti Ini Masih Relevan?
Modernisasi kemungkinan akan terus mengubah cara manusia bertani. Mesin akan semakin canggih, teknologi akan semakin murah, dan proses produksi akan semakin efisien.
Namun, penelitian ini mengingatkan bahwa pembangunan pertanian tidak hanya berbicara tentang peningkatan hasil panen. Pertanyaan yang sama pentingnya adalah bagaimana masyarakat memastikan bahwa manfaat modernisasi juga dapat dirasakan oleh mereka yang paling rentan kehilangan akses terhadap pekerjaan.
Selama nilai saling percaya, gotong royong, dan kesepakatan sosial masih dijaga, massima galungmenunjukkan bahwa tradisi lokal tidak sekadar menjadi warisan budaya. Ia juga dapat menjadi mekanisme yang menjaga keberlanjutan penghidupan masyarakat tani di tengah perubahan zaman.
Panulis: Safira Patami Hioda














