Banner Pajak
Budaya  

Lontara Bugis Hadapi Tantangan Digital, Bisakah Teknologi AR Menarik Minat Generasi Muda?

Lontara Bugis
ARSIP. Salah satu gambar naskahnyang berisikan lontara bugis. (foto:ist)

MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Pembelajaran aksara Lontara Bugis menghadapi tantangan seiring berubahnya cara belajar generasi muda yang semakin dekat dengan teknologi digital. Di tengah menurunnya minat mempelajari Bahasa Lontara dan masih dominannya metode pembelajaran konvensional, pemanfaatan Augmented Reality (AR) mulai dikembangkan sebagai salah satu media untuk membantu mengenalkan kembali warisan budaya tersebut.

Lontara Bugis bukan sekadar sistem tulisan tradisional. Aksara ini menjadi bagian dari warisan pengetahuan masyarakat Bugis-Makassar yang digunakan dalam berbagai literatur, mulai dari sejarah, silsilah, hingga tata aturan pemerintahan dan kehidupan sosial. Keberadaannya juga berkaitan dengan naskah Sureq Galigo, salah satu karya sastra penting masyarakat Bugis.

Namun, keberlanjutan pengetahuan tersebut bergantung pada proses pewarisan kepada generasi berikutnya. Ketika minat belajar Bahasa Lontara menurun, tantangan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca atau menulis aksara, tetapi juga pada upaya menjaga pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

BACA JUGA: Kenapa Orang Bugis-Makassar Suka Merantau?

Persoalan tersebut menjadi latar belakang penelitian berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Bahasa Lontara Bugis Berbasis Augmented Reality Menggunakan Unity 3D” yang disusun oleh Ahmad Fikri Aslam Suharto dari Universitas Hasanuddin pada 2020.

Dalam penelitiannya, Ahmad Fikri Aslam Suharto menjelaskan bahwa pengembangan media pembelajaran dilakukan sebagai respons terhadap rendahnya minat belajar Bahasa Lontara serta metode pembelajaran yang masih bersifat manual dan konvensional.

Penelitian itu bertujuan mengembangkan media pembelajaran berbasis Augmented Reality yang dapat membantu pengguna mengenal aksara Lontara Bugis melalui objek tiga dimensi dan penyajian materi yang lebih interaktif.

“Tujuannya adalah membuat media pembelajaran berbasis Augmented Reality, menampilkan objek tiga dimensi pada huruf Lontara Bugis, serta mendukung proses pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi,” sebagaimana dijelaskan dalam penelitian tersebut.

Pengembangan aplikasi tersebut menempatkan teknologi sebagai alat bantu pembelajaran, bukan sebagai pengganti materi. Materi mengenai aksara Lontara tetap menjadi inti pembelajaran, sementara teknologi digunakan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih visual.

BACA JUGA: Kue Apang Bugis: Cita Rasa Tradisi yang Menjadi Primadona di Jalur Poros Barru

Dalam aplikasinya, teknologi Augmented Reality bekerja dengan menggabungkan lingkungan nyata dan objek digital secara waktu nyata. Berbeda dengan Virtual Reality yang membangun lingkungan virtual sepenuhnya, AR tetap mempertahankan lingkungan nyata, kemudian menambahkan informasi digital berupa gambar, animasi, video, maupun model tiga dimensi.

Pada media pembelajaran yang dikembangkan, sistem menggunakan pendekatan marker-based augmented reality. Kamera perangkat akan mengenali marker atau penanda tertentu, kemudian sistem menampilkan objek virtual yang telah dirancang sesuai materi pembelajaran.

Pendekatan tersebut memungkinkan peserta didik tidak hanya melihat bentuk huruf Lontara dalam buku atau media cetak, tetapi juga memperoleh pengalaman visual melalui objek digital yang muncul ketika marker dikenali oleh sistem.

Dalam proses pengembangannya, penelitian ini memanfaatkan beberapa perangkat lunak yang memiliki fungsi berbeda. Unity 3D digunakan sebagai platform utama untuk membangun aplikasi lintas perangkat, Vuforia mendukung pengenalan marker melalui teknologi computer vision, sedangkan Blender 3D digunakan untuk membuat model dan animasi tiga dimensi yang ditampilkan dalam aplikasi. Meski demikian, penelitian tersebut juga menegaskan bahwa teknologi bukan satu-satunya jawaban dalam upaya pelestarian Lontara Bugis.

Secara tidak langsung, penelitian tersebut menunjukkan bahwa aplikasi hanya berfungsi sebagai media pendukung pembelajaran. Keberhasilan pelestarian Lontara tetap bergantung pada proses pengenalan, pembelajaran, dan pemahaman terhadap aksara beserta sejarah serta literatur yang menyertainya.

Artinya, penggunaan teknologi digital lebih diarahkan sebagai pintu masuk agar generasi muda lebih tertarik mempelajari Lontara melalui media yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari.

Perubahan yang ditawarkan bukanlah mengganti cara belajar secara keseluruhan, melainkan menyesuaikan media penyampaian dengan perkembangan teknologi. Sementara substansi pengetahuan mengenai Lontara tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Bugis-Makassar.

Bagi masyarakat, pengembangan media pembelajaran berbasis Augmented Reality menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu bertentangan dengan kemajuan teknologi. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperluas akses pembelajaran tanpa menghilangkan nilai dan makna yang terkandung dalam warisan budaya tersebut.

Ke depan, tantangan pembelajaran Lontara tidak hanya terletak pada penyediaan aplikasi atau media digital, tetapi juga pada bagaimana generasi muda terus mengenal, mempelajari, dan memahami aksara beserta pengetahuan yang diwariskan melalui Lontara. Dengan demikian, warisan budaya tersebut tidak hanya tersimpan dalam naskah, tetapi tetap hidup karena terus dipelajari lintas generasi.(*/IN)

Penulis: Salsa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *