INSPIRASINUSANTARA-Rencana pemerintah menerapkan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan bagi ASN usai Lebaran 2026 memunculkan pertanyaan: apakah kebijakan ini benar-benar efisien atau justru menahan laju ekonomi? Di tengah tekanan harga energi global, pengurangan mobilitas dianggap solusi cepat menekan konsumsi BBM. Namun, efeknya terhadap aktivitas ekonomi harian mulai dipertanyakan.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa efisiensi energi harus dilakukan dari pola kerja. Ia menyebut, “perlu efisiensi daripada waktu kerja,” untuk mengurangi mobilitas harian yang menyedot BBM. Artinya, penghematan diarahkan langsung pada aktivitas transportasi pekerja.
Dari sisi hitungan ekonomi, Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan dampaknya cukup signifikan. Ia mengatakan, “kira-kira 20%,” terkait potensi penurunan konsumsi BBM jika WFH diterapkan. Angka ini menunjukkan bahwa penghematan energi bisa langsung berdampak pada beban subsidi negara.
Namun, di balik potensi efisiensi, ada tekanan pada ekonomi riil. Berkurangnya aktivitas kantor berarti penurunan transaksi harian di sektor transportasi, kuliner, hingga UMKM di kawasan perkantoran. Perputaran uang yang biasanya terjadi setiap hari berisiko melambat.
Sejumlah ekonom menilai kebijakan ini memang efektif dalam jangka pendek untuk menjaga fiskal. Penghematan BBM memberi ruang bagi pemerintah menahan tekanan subsidi di tengah ketidakpastian global. Tetapi, efeknya bisa menciptakan ketimpangan antar sektor yang tidak semuanya bisa beradaptasi dengan sistem WFH.
Di sisi lain, perubahan pola kerja juga memunculkan pergeseran konsumsi. Aktivitas ekonomi tidak hilang, tetapi berpindah ke sektor rumah tangga dan wilayah non-perkantoran. Ini menciptakan pola baru, namun belum tentu mampu menggantikan perputaran ekonomi sebelumnya.
Kondisi ini menempatkan kebijakan WFH pada dilema ekonomi yang nyata. Di satu sisi, negara diuntungkan dari penghematan energi, tetapi di sisi lain, sektor informal berpotensi kehilangan pendapatan harian. Ketidakseimbangan ini menjadi risiko yang perlu diantisipasi.
Jika benar mampu menekan konsumsi BBM hingga 20%, WFH bisa menjadi langkah strategis menghadapi tekanan global. Namun, tanpa kebijakan pendukung bagi sektor terdampak, efisiensi ini bisa dibayar mahal oleh perlambatan ekonomi di tingkat bawah. Lalu, apakah WFH akan menjadi solusi berkelanjutan atau justru memunculkan masalah ekonomi baru?(slv/IN)













