Buras Tetap Jadi Bekal Wisata Keluarga Bugis-Makassar

INSPIRASINUSANTARA-Buras masih menjadi pilihan bekal makanan bagi banyak keluarga Bugis-Makassar ketika berkunjung ke berbagai tempat wisata di Sulawesi Selatan. Makanan tradisional berbahan dasar beras yang dimasak dengan santan ini dinilai praktis dibawa dan mudah dikonsumsi bersama lauk sederhana saat berada di lokasi rekreasi.

Dalam kehidupan masyarakat Bugis-Makassar, buras tidak hanya disajikan pada momen tertentu seperti Idulfitri. Banyak keluarga juga menyiapkan buras sebagai bekal perjalanan ketika berkunjung ke pantai, taman kota, atau kawasan wisata alam.

Nurul Hanifa sebagai pencinta buras, mengatakan kebiasaan membawa buras sebagai bekal perjalanan telah lama dikenal dalam tradisi masyarakat Bugis. Menurutnya, makanan ini dipilih karena mudah dibawa dan dapat dimakan bersama berbagai jenis lauk.

“Buras sejak dulu sering dibawa ketika bepergian atau berkumpul di luar rumah. Selain praktis, buras juga bisa dimakan dengan lauk sederhana,” kata Nurul.

Ia menjelaskan, buras biasanya disajikan bersama lauk seperti ayam, ikan, telur, atau sambal. Kombinasi tersebut membuat buras menjadi makanan yang cukup mengenyangkan bagi keluarga yang menghabiskan waktu di luar rumah atau di tempat wisata.

Selain karena kepraktisannya, kebiasaan membawa buras juga berkaitan dengan tradisi makan bersama dalam keluarga. Bekal yang dibawa dari rumah biasanya dinikmati secara bersama oleh anggota keluarga atau kerabat yang ikut dalam perjalanan.

Menurut Nurul Hanifa, praktik tersebut mencerminkan nilai kebersamaan yang masih dijaga dalam budaya Bugis-Makassar. Ia menilai kebiasaan berbagi makanan dari bekal perjalanan menjadi bagian dari cara masyarakat mempererat hubungan sosial.

Di tengah berkembangnya berbagai pilihan kuliner di kawasan wisata, buras tetap dipertahankan sebagai salah satu makanan yang sering dibawa sebagai bekal perjalanan. Bagi sebagian keluarga Bugis-Makassar, membawa buras saat berwisata bukan hanya soal makanan, tetapi juga menjadi cara menjaga tradisi yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.(jmi/IN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *