Dari Riset ke Buku, Unhas Buka Peluang Karya Mahasiswa Berdampak

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. Muhammad Ruslin, mendukung pengembangan karya mahasiswa Magister Kajian Budaya yang menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat.

Unhas
APRESIASI. Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Prof. Muhammad Ruslin memberi apresiasi ke Mahasiswa Magister Kajian Budaya.

INSPIRASINUSANTARA.ID — Hasil penelitian di perguruan tinggi tidak hanya ditujukan untuk memenuhi persyaratan kelulusan, tetapi juga berpotensi menjadi pengetahuan yang dapat digunakan masyarakat. Salah satu cara memperluas manfaat tersebut ialah mengolah hasil riset menjadi buku yang menjelaskan persoalan sosial, kebudayaan, dan kehidupan sehari-hari dengan bahasa yang dapat dipahami pembaca di luar lingkungan akademik.

Peluang pengembangan karya tersebut menjadi perhatian dalam pertemuan mahasiswa Magister Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Hasanuddin (Unhas), dengan Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.B.M.Mf., Subsp.Ortognat.D., selaku Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unhas, Senin (2/11/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Prof. Ruslin menerima buku karya mahasiswa Magister Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya sebagai bentuk luaran intelektual dari proses kajian dan penelitian. Buku diserahkan langsung Ketua Ikatan Mahasiswa Kajian Budaya (I’M-KB), Farisal.

Dukungan terhadap karya mahasiswa membuka ruang pembicaraan mengenai bagaimana hasil penelitian dapat menjangkau pembaca yang lebih luas. Buku, dalam konteks ini, dapat menjadi salah satu medium untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan persoalan yang dihadapi masyarakat, termasuk isu identitas, tradisi, perubahan sosial, dan dinamika kebudayaan.

Prof. Ruslin menyatakan kesediaannya mendukung mahasiswa yang mengembangkan hasil penelitian menjadi karya yang memiliki manfaat sosial. Ia juga membuka peluang bagi mahasiswa Magister Kajian Budaya untuk menjadikan buku berbasis riset sebagai salah satu bentuk hasil akhir studi, sepanjang memenuhi ketentuan akademik yang berlaku di Unhas.

“Mahasiswa Magister Kajian Budaya memiliki peluang untuk mengembangkan hasil riset menjadi karya buku. Kami terbuka terhadap upaya tersebut, terutama apabila hasil kajiannya dapat memberikan manfaat dan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat,” kata Prof Ruslin.

Dari sisi akademik, pengembangan riset menjadi buku memiliki proses yang berbeda dari sekadar menerbitkan naskah penelitian. Mahasiswa perlu mengolah temuan, menyusun argumentasi, memeriksa kembali data, serta menerjemahkan konsep teoretis menjadi penjelasan yang relevan bagi pembaca tanpa menghilangkan ketepatan ilmiahnya.

Peluang tersebut juga memiliki dasar dalam regulasi pendidikan tinggi. Peraturan Rektor Unhas Nomor 46982/UN4.1/TM.02.01/2023 tentang Penyelenggaraan Program Magister mengatur tugas akhir berupa tesis atau karya lain yang disetarakan, termasuk prototipe, proyek, karya perancangan, dan penciptaan karya; ketentuan ini menjadi salah satu pijakan untuk membahas kemungkinan pengembangan bentuk tugas akhir yang lebih beragam.

Meski demikian, ketentuan mengenai karya lain yang disetarakan tidak otomatis berarti setiap buku dapat menggantikan tesis. Bentuk tugas akhir, standar mutu, mekanisme penilaian, serta persyaratan kelulusan tetap perlu mengacu pada peraturan universitas, ketentuan program studi, dan mekanisme penilaian yang berlaku, termasuk Keputusan Rektor Unhas Nomor 10949/UN4.1/KEP/2025 tentang Rubrik dan Mekanisme Penilaian Bentuk Tugas Akhir Mahasiswa.

Karena itu, peluang yang dibuka bagi mahasiswa perlu ditindaklanjuti melalui pembahasan teknis antara pimpinan universitas, fakultas, dan pengelola program studi. Pembahasan tersebut dapat mencakup kriteria buku berbasis riset, standar kelayakan naskah, peran dosen pembimbing, proses pengujian, serta cara memastikan bahwa karya yang dihasilkan tetap memenuhi capaian pembelajaran program magister.

Di sisi lain, penerbitan buku berbasis riset juga dapat memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan yang selama ini tersimpan dalam laporan penelitian atau dokumen akademik. Agar manfaatnya tidak berhenti pada penerbitan, mahasiswa dan program studi dapat mempertimbangkan diseminasi melalui diskusi publik, komunitas, sekolah, lembaga kebudayaan, maupun organisasi yang berkaitan dengan topik penelitian.

Dukungan terhadap karya mahasiswa pada akhirnya perlu diikuti mekanisme akademik yang jelas dan berkelanjutan. Jika peluang tersebut dapat diterjemahkan menjadi kebijakan yang terukur, riset mahasiswa Magister Kajian Budaya tidak hanya menjadi bagian dari perjalanan memperoleh gelar, tetapi juga berpotensi menjadi sumber pengetahuan yang membantu masyarakat memahami dan merespons perubahan sosial di sekitarnya. (*/IN)

Banner Pajak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *