MAKASSAR, inspirasinusantara.id — Di tengah capaian Indonesia sebagai produsen nanas terbesar dunia dengan produksi lebih dari 3,2 juta ton per tahun, Sulawesi Selatan dinilai memiliki peluang besar menjadi sentra pengembangan nanas berbasis kesehatan, khususnya sebagai komoditas pendukung pencegahan asam urat.
Data Outlook Nenas 2023–2024 Kementerian Pertanian menunjukkan produksi nanas nasional pada 2022 mencapai sekitar 3,2 juta ton dan relatif stabil pada 2023. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat teratas produsen nanas global.
Di Sulawesi Selatan, sejumlah kabupaten tercatat sebagai penghasil nanas, antara lain Kabupaten Pinrang, Barru, Enrekang, dan Luwu. Berdasarkan publikasi penelitian Fakultas Pertanian Universitas Muslim Indonesia, produksi nanas Kabupaten Pinrang pada 2020 mencapai lebih dari 5.600 ton, tertinggi di Sulsel dalam rentang 2016–2020. Sentra produksi berada di Kecamatan Mattiro Bulu, termasuk Desa Bottae, dengan varietas nanas madu sebagai komoditas utama.
Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan hortikultura, termasuk perluasan lahan tanam nanas secara bertahap untuk memperkuat produksi daerah.
Kandungan Kesehatan Jadi Nilai Strategis
Selain potensi produksi, nanas memiliki nilai tambah dari sisi kesehatan. Guru Besar Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, Prof Ahmad Sulaeman, menjelaskan nanas (Ananas comosus) mengandung vitamin C tinggi dan enzim bromelain yang bersifat antiinflamasi.
“Nanas sudah lama dikenal baik untuk kesehatan. Kandungan seratnya bagus untuk pencernaan,” ujarnya dikutip dari laman resmi IPB University, Senin (2/3/2026).
Ia menambahkan, vitamin C dalam nanas membantu menurunkan kadar asam urat dalam darah, sementara bromelain berperan meredakan peradangan dan nyeri sendi. Kandungan air yang tinggi juga membantu proses hidrasi serta pembuangan asam urat melalui urin.
Menurut Prof Ahmad, kombinasi serat, antioksidan, dan senyawa bioaktif dalam nanas membuat buah ini berpotensi mendukung pengendalian kadar gula darah serta meningkatkan daya tahan tubuh.
“Di tengah tren gaya hidup sehat dan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pangan bergizi, nanas berpeluang menjadi salah satu buah unggulan nasional yang tak hanya kuat secara produksi, tetapi juga kaya manfaat kesehatan,” katanya.
Peluang Hilirisasi di Sulsel
Meski demikian, produksi nanas di Sulsel masih didominasi penjualan buah segar. Industri pengolahan seperti jus, selai, atau produk olahan berbasis bromelain belum berkembang signifikan di tingkat daerah.
Padahal, secara nasional, ekspor nanas Indonesia banyak didominasi produk olahan. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tambah ekonomi terbesar berada pada sektor hilir.
Dengan iklim tropis yang sesuai dan ketersediaan lahan pertanian di sejumlah kabupaten, Sulawesi Selatan memiliki peluang memperbesar kontribusinya terhadap produksi nasional sekaligus membangun citra sebagai sentra nanas berbasis kesehatan.
Jika pengembangan produksi dibarengi hilirisasi dan penguatan branding komoditas, Sulsel bukan hanya berpotensi menjadi sentra hortikultura, tetapi juga “lumbung obat asam urat” berbasis sumber daya lokal. (*/IN)













